Chicken Crispy Enchik Bikinan Bu Eni Matesih Tetap Digandrungi Saat Pandemi

Umkmexpo.com, KARANGANYAR — Berawal dari keterampilan membuat ayam goreng crispy secara autodidak di tahun 2012, chicken crispy olahan Siti Nur’aeni alias Eni, 40, warga Sabrang Kulon RT 001/RW 013, Matesih, Karanganyar, ini digandrungi para penggemar. Meski muncul pandemi Covid-19, usaha dengan brand Enchik alias Eni Chiken itu tetap berkibar di kawasan Matesih.

Eni, 40, mengatakan usaha yang dimulai 27-11-2012 tersebut bermula saat dirinya yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (IRT) ingin mencari kesibukan lain yang bersifat produktif. Secara kebetulan, Eni memiliki keahlian membikin ayam goreng crispy. Keahlian itu dimiliki secara autodidak.

“Kebetulan juga, di depan rumah [jalan utama Matesih] ada teman yang menjual gerobak. Selanjutnya, saya menjual chicken di depan rumah. Ternyata, banyak yang suka dengan Enchik ini,” kata pelaku UMKM di Matesih, Kabupaten Karanganyar, itu kepada Solopos.com, Selasa (27/7/2021).

Eni mengatakan penjualan chicken crispy sebelum berlangsung pandemi Covid-19 dinilai sangat lumayan. Dalam sehari, Eni mampu menjual sebanyak tujuh kilogram ayam.

Munculnya pandemi Covid-19 diakui mempengaruhi usahanya. Namun demikian, usahanya masih tetap berkibar.

“Di tengah pandemi Covid-19 memang ada penurunan. Tapi yang terpenting masih bisa bertahan. Apalagi di saat sekarang ada pembatasan-pembatasan juga. Selama pandemi Covid-19, saya masih bisa menjual chicken rata-rata empat kilogram per hari. Chicken bikinan saya harganya sangat terjangkau,” kata Eni.

Dia mengatakan harga ayam goreng crispy Enchik bervariasi mulai dari Rp4.000 hingga Rp10.000.

Eni mengatakan usaha chicken di kawasan Matesih diakui justru menjamur di tengah pandemi Covid-19. Sejauh ini terdapat 12 gerobak chicken di jalan utama di dekat Sabrang Kulon, Matesih.

“Meski banyak yang berjualan, saya masih memiliki pelanggan sendiri,” katanya.

Aneka Makanan Kering

Selain chicken, lanjut Eni, ibu dua anak tersebut juga memiliki produk lainnya. Hal itu seperti aneka makanan kering, seperti usus crispy yang enak, gurih, dan renyah dengan rasa tiada duanya; jamur crispy yang enak, gurih, dan renyah dengan jagonya jamur crispy; sale gulung alias salung dengan rasa menggoda selera; kerupuk kemplang dengan rasa tiada dusta.

Berbagai produk itu rata-rata sudah dikemas secara full print dengan harga senilai Rp15.000 per bungkus. Di luar itu, masih ada tepung bumbu serbaguna.

“Seluruh produk saya tanpa bahan pengawet. Untuk produk makanan kering, seperti kerupuk kemplang dan lainnya itu biasanya saya titipkan di kawasan objek wisata Tawangmangu. Awal pembuatannya karena saya sering bawa oleh-oleh saat bertemu dengan teman-teman. Dari hasil olahan saya sendiri itu ternyata banyak yang suka. Akhirnya, saya memproduksi lebih lanjut,” katanya.

Sebagai seorang pelaku UMKM, Eni menyadari harus terus mengembangkan potensi dirinya. Hal itu dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya mengikuti UMKM Virtual Expo 2021 beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group.

“Terus terang, saya ini orangnya gaptek alias gagap teknologi. Tapi, saya ingin belajar juga. Ke depan, memang ada rencana untuk memaksimalkan penjualan secara online juga. Jadi, apa yang diperoleh saat UMKM Virtual Expo 2021 dapat memberikan wawasan baru ke saya,” katanya.


No Comments
Leave a Comment