Keripik Jamur Tiram dari Lereng Merapi Ini Punya Omzet Puluhan Juta Rupiah

Umkmexpo.com, SOLO — Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Jateng), selama ini dikenal sebagai daerah penghasil susu berkualitas. Tapi selain susu, daerah yang dekat dengan Gunung Merapi itu juga mempunyai potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang beragam.

Salah satu produk UMKM yang pemasarannya sudah mencapai Ibu Kota dan sekitarnya itu yakni keripik jamur tiram Makarti. Usaha Ali Murtopo, warga Kebon Gulo RT 003/RW 001 Musuk, Boyolali, tersebut dirintis sejak tahun 2015.

“Area penjualan mulai dari Solo, Boyolali, Salatiga, Semarang, Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Produknya ada krispi jamur tiram, krispi jamur kuping, olahan lain jamur seperti bakso, kerupuk dan peyek,” ujarnya, Kamis (2/9/2021) siang.

Tekstur jamur krispi yang renyah serta rasanya yang enak menjadi keistimewaan produk buatan Ali Murtopo. Tidak heran selama beberapa tahun jamur krispi buatannya banyak dicari. Saat itu omzet penjualan mencapai Rp20 juta per bulan.

Bahkan Ali mampu mempekerjakan enam ibu rumah tangga di sekitarnya untuk membantu proses produksi. “Dulu omzet kotor sebulan bisa sampai Rp20 juta. Itu kotornya sekitar Rp15 juta. Tapi setahun belakangan sepi,” sambungnya.

Menurut Ali, lesunya usaha yang ia geluti lantaran kondisi pandemi Covid-19. Sepinya warung-warung makan dan tidak adanya resepsi pernikahan membuat permintaan camilan jamur krispi Makarti anjlok drastis.

Penjualan Online

Bahkan selama masa pandemi Covid-19 omzet kotor jualannya hanya Rp5 juta per bulan. “Produk saya kan camilan, segmennya untuk oleh-oleh. Karena rumah makan pada libur, jadinya ya sepi. Saya jualannya kan sistem konsinyasi,” urainya.

Parahnya, sistem penjualan secara online produk Ali Murtopo belum maksimal. Sebab ia mengakui belum begitu menguasai teknologi informasi dan sistem penjualan online. Walau sudah ada beberapa akun media sosial produknya.

“Akun medsos sudah ada, tapi jujur saya masih gaptek. Kebetulan selama ini kami juga belum punya admin sendiri,” katanya. Ali berharap penurunan status PPKM di Boyolali dan sejumlah wilayah di Jawa akan memantik geliat ekonomi.

Hal itu seiring pelonggaran di beberapa kegiatan masyarakat, seperti resepsi pernikahan dan dibukanya pusat perbelanjaan. “Mudah-mudahan ke depan geliat ekonomi semakin terasa, sehingga para pelaku UMKM bisa bangkit,” harapnya.

Mengenai keunggulan produknya, menurut Ali, ada pada rasanya yang enak-gurih dan teksturnya yang renyah. Selain itu produk yang sudah dikemas dalam plastik bisa bertahan hingga enam bulan. “Kami pakai tepungnya tipis-tipis,” urainya.

Belum lama ini mengikuti UMKM Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia bekerja sama dengan Solopos Media Group. Ali mengikuti kegiatan itu agar bisa menambah pengalaman dan ilmu pemasaran dengan sharing bersama sesama pengusaha.


No Comments
Leave a Comment