Lentho Solo, Camilan Ndesa yang Tembus Pasar Eropa

Umkmexpo.com, WONOGIRI — Di tangan Listina Rahayu, makanan ringan lentho menjadi camilan yang enak dan disukai banyak orang. Selain sudah beberapa kali kirim ke luar negeri, lentho buatan warga Mipitan, Mojosongo, Jebres, Solo, itu siap kuasai pasar Indonesia.

Usaha Listina yang diberi nama Lentho Solo itu mulai dirintis sejak 2013. Berawal dari pemasaran di toko sekitar rumahnya, kini Lentho Solo sudah merambah ke pasar atau penjualan online.

Listina mengatakan usaha lentho yang ia geluti berawal dari pernikahannya dengan orang Solo. Sebelumnya ia bersama keluarganya tinggal di Jakarta. Ia terinspirasi membuat usaha lentho dari kakak iparnya.

“Saat itu kakak ipar saya bikin lentho tradisional untuk dijual. Namun pemasarannya terbatas, hanya di beberapa warung kelontong di sekitar rumah,” kata dia kepada Solopos.com, Selasa (31/8/2021).

Mencoba Resep Lain

Dari situ, Listina melihat ada potensi bagus dalam penjualan lentho. Namun ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Mulai dari unsur bahan baku, bumbu dan lain-lain. Ia pun mencoba dengan resep lain.

Kemudian, lentho hasil pembuatan Listina dicoba ditawarkan di beberapa toko dekat rumahnya. Ternyata pasar menerima dan merespons bagus. Pada saat itu satu hari dirinya bisa menjual 100 bungkus. Setiap bungkus harganya Rp5.000.

Melihat potensi itu, ia berpikir jika model penjualannya hanya seperti itu sulit untuk mendapatkan omzet yang lebih. Pada 2016, ia berniat mengembangkan usahanya agar lebih besar. Ia memutuskan mengurus izin usaha, mendapatkan sertifikat halal, pendaftaran merek dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, usaha Lentho Solo mulai berkembang lebih baik. Terlebih saat kemasan lentho diganti dengan alumunium foil. Penjualannya meningkat signifikan.

Rasa yang ditawarkan juga berkembang, tidak hanya satu rasa saja. Kini ada lima rasa Lentho Solo, yakni original, keju, BBQ, sapi panggang, dan pedas manis.

Di bawah bimbingan Dinas Koperasi dan UKM Solo, Lentho Solo kerap mengikuti pameran atau expo di luar daerah, seperti Semarang hingga Jakarta. Barang yang dijual selalu mendapat respons bagus di masyarakat. Sebab, lentho dinilai camilan langka.

“Alhamdulillah sudah beberapa kirim ke luar negeri, seperti Hong Kong, Belanda, Belgia, dan Paris. Kalau ke Belanda itu pernah kirim 200 bungkus, lewat Angkasa Pura,” ungkap dia.

Masuk Pasar Online

Lentho Solo, kata Listina, dijual di toko kelontong dan toko oleh-oleh. Selain itu juga masuk ke pasar online mulai dari shopee, tokopedia, bukalapak, hingga sejumlah media sosial seperti instagram dan facebook. Di marketplace, ia sudah mempunyai beberapa reseller.

Sebelum pandemi, dalam satu hari Listina memproduksi 12 kilogram lentho yang bisa dijadikan 110-120 bungkus. Setiap bungkus bertanya 95 gram. Sedangkan harga setiap bungkusnya Rp12.000. Omzet yang diperoleh dalam satu bulan Rp7 juta hingga Rp12 juta.

Listina Rahayu merupakan satu dari 50 peserta UMKM Virtual Expo 2021. Event yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group itu menyasar UMKM Soloraya.

Listina mengaku mendapatkan ilmu banyak setelah mengikuti event itu. Terutama yang berkaitan dengan penjualan online dan strategi bisnis melalui media sosial dan marketplace.

“Kami sedang memperbaiki ruang produksi. Jika sudah jadi, materi yang didapat di UMKM Virtual Expo saya aplikasikan. Target kuasai pasar Indonesia. Kalau pasar luar negeri juga menerima Alhamdulillah,” kata Listina.


No Comments
Leave a Comment