Pakai Tomat Lokal, Saus Pasta LaRissso Kini Tembus Negeri Singa

Umkmexpo.com, KARANGANYAR — Pasangan suami istri (pasutri), Arieffy Syafati, 36, dan Markos Tobing, 36, menggantungkan mimpi tinggi mengenalkan kuliner cita rasa Indonesia ke seluruh dunia.

Mimpi itu mereka wujudkan lewat produksi saus pasta artisan cita rasa Indonesia. Mimpi mulai dibangun pada 2016. Mereka melabeli saus pasta LaRissso sebagai saus pasta artisan maka konsekuensinya tidak sembarangan.

Saus pasta LaRissso dibuat dengan racikan bahan dan komposisi bumbu tertentu dipadukan dengan keahlian dan pengalaman si pembuat. Riri, sapaan akrab Arieffy Syafati, menuturkan suaminya, Markos, yang meracik dan membuat saus pasta tersebut.

Markos disebutnya mencoba-coba resep selama berbulan-bulan hingga tercipta saus pasta LaRissso saat ini. Ada empat varian produk, yaitu saus pasta bolognese, spicy tuna, spicy hot chicken, dan bbq smoked beef. Mereka memproduksi saus pasta LaRissso di rumah, Jalan Elang Mas XII No.6, Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.

“Konsep saus pasta artisan. Kami memegang betul resep dan cita rasa. Tidak ada keahlian chef, enggak ahli kuliner. Kami hanya hobi makan pasta dan kecintaan terhadap cita rasa Indonesia. Lalu muncul keinginan belajar membuat usaha. Maka kami menciptakan sesuatu yang baru tetapi sesuai lidah [orang] Indonesia,” kata Riri saat berbincang dengan Solopos.com melalui sambungan telepon, Jumat (16/7/2021).

Cerita latar belakang dua sejoli itu, Riri “lulusan” salah satu perbankan berstatus BUMN. Dia menyandang gelar dari sekolah program studi psikologi. Suaminya jebolan perusahaan produksi makanan dan minuman di Indonesia yang memiliki gelar dari program studi ekonomi. Keduanya memutuskan keluar dan merintis usaha.

Menggunakan Tomal Lokal

Kembali ke konsep saus pasta artisan, Riri memastikan tidak ada bahan dan bumbu yang diracik secara asal-asalan. Bahkan, mereka hanya mau mengambil bahan segar berkualitas dari petani lokal. Cerita Riri mengalir saat membahas bahan dasar saus pasta, yakni tomat. LaRissso hanya menggunakan tomat lokal asal Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

“Kami produksi saus setiap hari. Kami ambil [tomat] dari petani Cepogo. Setiap pagi dikirim 60 kilogram tomat segar ke rumah produksi. Kasihan petani tomat saat panen melimpah. Banyak yang dibuang karena harga jatuh. Itu salah satu alasan kami beli tomat lokal. Siapa tahu bisa membantu menyejahterakan petani meski sedikit,” ujar dia.

Selain tomat, LaRissso juga menggunakan daging sebagai isian saus. Untuk saus pasta bolognese menggunakan daging giling kualitas premium, spicy tuna menggunakan serpihan daging ikan tuna, spicy hot chicken menggunakan daging ayam bagian dada dicincang, dan bbq smoked beef menggunakan daging asap.

Baca juga: Cita Rasa Unik Teh Gambyong Buatan Pengusaha Karanganyar Tembus Berbagai Pulau

Produk LaRissso dikemas dalam tiga jenis kemasan. Kemasan ekonomis sachet atau sekali santap, kemasan kaca 250 gram, dan kemasan pouch ukuran 500 gram hingga satu kilogram. Harganya berkisar Rp10.000 untuk sachet hingga Rp115.000 khusus untuk kemasan satu kilogram. Produk saus pasta LaRissso sudah melewati uji laboratorium untuk masa simpan mencapai enam bulan.

LaRissso berkepentingan memastikan produk yang dihasilkan tidak main-main. Bahkan mereka melabeli produk sebagai healthy food atau makanan sehat. Riri menyadari label itu membawa konsekuensi, salah satunya pasar produk LaRissso terbatas. Tetapi, dia tetap optimistis menggarap pasar tersebut.

“Kami cari sesuatu yang beda, unik. Ya susah di awal. Orang dengar saus itu pasti tanya beneran dari tomat? Jangan-jangan tomat busuk atau dicampur pepaya? Perbedaan kami dengan saus pasta lain, kami gunakan bahan natural, tanpa pengawet, tanpa msg. Semua bahan fresh. Kami pakai daging asli dan diolah dengan minyak kanola. Kami butuh mengedukasi customer [soal makanan sehat],” jelas dia.

Mimpi besar pasangan itu mengenalkan kuliner cita rasa Indonesia ke seluruh dunia mulai diwujudkan saat ini. Diawali dari pameran keliling sepuluh kota besar di Indonesia, yakni Surabaya, Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Samarinda, Makassar, dan Bali, produk LaRisso kini merambah pasar Singapura.

Kelengkapan Sertifikat dan Izin

Modal mereka rajin mengikuti pameran kelas nasional maupun internasional. Riri mengakui ada campur tangan pemerintah dalam hal itu. Dimulai dari tahun 2018, usahanya terpilih menjadi salah satu Food Startup Indonesia (FSI) yang saat itu diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

“Ketemu banyak mentor yang ahli di bidang dalam acara Demoday. Kami presentasi. Awalnya kan ada LaRissso Spaghetti dan saus pasta. Lalu dari situ kami diarahkan untuk fokus menggarap satu hal. Kami garap manufaktur karena pasar lebih luas. Kami tutup dua outlet LaRissso Spaghetti,” katanya.

Setelah itu, mereka berbenah dari segi kelengkapan sertifikat produk makanan, kemasan, izin seperti produksi industri rumah tangga pangan (PIRT), badan pengawas obat dan makanan (BPOM) sedang proses, dan halal. Mereka juga membenahi rumah produksi untuk mendapatkan kelengkapan sertifikat dan izin yang dibutuhkan.

“Tahun lalu kami dihubungi Bank Indonesia Jawa Tengah dan dimasukkan 100 UMKM unggulan potensi ekspor Jateng. Kami diajari ekspor dan dipertemukan dengan pembeli dari Singapura. Saat ini sudah ekspor ke Singapura melalui eksportir di Semarang. Ke depan semoga bisa ekspor mandiri,” ungkap dia.

Awal tahun ini, saus pasta artisan LaRissso mengikuti pameran UMKM Gayeng 2021 yang berlangsung di Suntec City Mal Singapura. Pameran bertajuk UMKM Gayeng 2021 Monco Negoro: Artisan Jawa Tengah Go Internasional.

“Kami tiga kali mengirim produk ke Singapura. Setiap order di atas 100 sampai 500 piece. Respons pasar Singapura bagus. Order berulang dalam waktu beberapa bulan. Menurut mereka cita rasa saus pasta artisan LaRissso cocok dengan taste orang Singapura,” ujar dia.

Baca juga: UMKM Soloraya Didorong Bertransaksi Aman dengan QRis dan Qren

Riri menyebut saus pasta LaRissso bercita rasa lidah Indonesia, tetapi diminati pasar Singapura terutama rasa spicy tuna dan spicy hot chicken untuk Itali. Perempuan berkerudung itu menyampaikan omzet LaRissso mencapai Rp70 juta per bulan. Pasar mereka segmen tertentu seperti yang disebutkan di atas, yakni kafe dan restoran. Pemasaran online melalui marketplace dan offline di M Bloc Market Jakarta.

Menambah Teman dan Jaringan

Dalam waktu dekat, Riri mengaku diajak salah satu kementerian mengikuti pameran di Dubai World Expo selama enam bulan. Produk LaRissso dibawa untuk mewakili cita rasa Indonesia lewat komposisi rempah-rempah.

“Saat pameran internasional itu kami sempat ketemu buyer. Ada perusahaan pasta dari Itali tertarik dengan cita rasa saus pasta LaRissso. Tapi kapasitas kami belum bisa memenuhi permintaan mereka. Kalau seperti ini malah jadi semangat usaha supaya berkembang,” tutur dia.

Baca juga: Bidik Pasar Milenial dan Generasi Z, Jualan Online Harus Cerdik

Riri juga merupakan salah satu peserta UMKM Virtual Expo 2021. Kegiatan itu diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group (SMG). Dia berharap bisa menambah teman dan jaringan melalui ajang UMKM Virtual Expo tersebut.

“Punya teman baru. Saya juga bisa refresh ilmu. Saya sudah memasarkan produk lewat marketplace tapi mungkin belum maksimal. Nah, lewat ini siapa tahu bisa menambah customer, jaringan. Selalu ada dampak positif terus belajar. Kami jadi tahu tools apa yang harus dioptimalkan di marketplace. Semoga LaRissso bisa terus tumbuh dan membawa manfaat untuk orang banyak,” urai dia.


No Comments
Leave a Comment