Lentho Solo, Camilan Ndesa yang Tembus Pasar Eropa

Umkmexpo.com, WONOGIRI — Di tangan Listina Rahayu, makanan ringan lentho menjadi camilan yang enak dan disukai banyak orang. Selain sudah beberapa kali kirim ke luar negeri, lentho buatan warga Mipitan, Mojosongo, Jebres, Solo, itu siap kuasai pasar Indonesia.

Usaha Listina yang diberi nama Lentho Solo itu mulai dirintis sejak 2013. Berawal dari pemasaran di toko sekitar rumahnya, kini Lentho Solo sudah merambah ke pasar atau penjualan online.

Listina mengatakan usaha lentho yang ia geluti berawal dari pernikahannya dengan orang Solo. Sebelumnya ia bersama keluarganya tinggal di Jakarta. Ia terinspirasi membuat usaha lentho dari kakak iparnya.

“Saat itu kakak ipar saya bikin lentho tradisional untuk dijual. Namun pemasarannya terbatas, hanya di beberapa warung kelontong di sekitar rumah,” kata dia kepada Solopos.com, Selasa (31/8/2021).

Mencoba Resep Lain

Dari situ, Listina melihat ada potensi bagus dalam penjualan lentho. Namun ada beberapa hal yang harus diperbaiki. Mulai dari unsur bahan baku, bumbu dan lain-lain. Ia pun mencoba dengan resep lain.

Kemudian, lentho hasil pembuatan Listina dicoba ditawarkan di beberapa toko dekat rumahnya. Ternyata pasar menerima dan merespons bagus. Pada saat itu satu hari dirinya bisa menjual 100 bungkus. Setiap bungkus harganya Rp5.000.

Melihat potensi itu, ia berpikir jika model penjualannya hanya seperti itu sulit untuk mendapatkan omzet yang lebih. Pada 2016, ia berniat mengembangkan usahanya agar lebih besar. Ia memutuskan mengurus izin usaha, mendapatkan sertifikat halal, pendaftaran merek dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, usaha Lentho Solo mulai berkembang lebih baik. Terlebih saat kemasan lentho diganti dengan alumunium foil. Penjualannya meningkat signifikan.

Rasa yang ditawarkan juga berkembang, tidak hanya satu rasa saja. Kini ada lima rasa Lentho Solo, yakni original, keju, BBQ, sapi panggang, dan pedas manis.

Di bawah bimbingan Dinas Koperasi dan UKM Solo, Lentho Solo kerap mengikuti pameran atau expo di luar daerah, seperti Semarang hingga Jakarta. Barang yang dijual selalu mendapat respons bagus di masyarakat. Sebab, lentho dinilai camilan langka.

“Alhamdulillah sudah beberapa kirim ke luar negeri, seperti Hong Kong, Belanda, Belgia, dan Paris. Kalau ke Belanda itu pernah kirim 200 bungkus, lewat Angkasa Pura,” ungkap dia.

Masuk Pasar Online

Lentho Solo, kata Listina, dijual di toko kelontong dan toko oleh-oleh. Selain itu juga masuk ke pasar online mulai dari shopee, tokopedia, bukalapak, hingga sejumlah media sosial seperti instagram dan facebook. Di marketplace, ia sudah mempunyai beberapa reseller.

Sebelum pandemi, dalam satu hari Listina memproduksi 12 kilogram lentho yang bisa dijadikan 110-120 bungkus. Setiap bungkus bertanya 95 gram. Sedangkan harga setiap bungkusnya Rp12.000. Omzet yang diperoleh dalam satu bulan Rp7 juta hingga Rp12 juta.

Listina Rahayu merupakan satu dari 50 peserta UMKM Virtual Expo 2021. Event yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group itu menyasar UMKM Soloraya.

Listina mengaku mendapatkan ilmu banyak setelah mengikuti event itu. Terutama yang berkaitan dengan penjualan online dan strategi bisnis melalui media sosial dan marketplace.

“Kami sedang memperbaiki ruang produksi. Jika sudah jadi, materi yang didapat di UMKM Virtual Expo saya aplikasikan. Target kuasai pasar Indonesia. Kalau pasar luar negeri juga menerima Alhamdulillah,” kata Listina.

Keripik Jamur Tiram dari Lereng Merapi Ini Punya Omzet Puluhan Juta Rupiah

Umkmexpo.com, SOLO — Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah (Jateng), selama ini dikenal sebagai daerah penghasil susu berkualitas. Tapi selain susu, daerah yang dekat dengan Gunung Merapi itu juga mempunyai potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang beragam.

Salah satu produk UMKM yang pemasarannya sudah mencapai Ibu Kota dan sekitarnya itu yakni keripik jamur tiram Makarti. Usaha Ali Murtopo, warga Kebon Gulo RT 003/RW 001 Musuk, Boyolali, tersebut dirintis sejak tahun 2015.

“Area penjualan mulai dari Solo, Boyolali, Salatiga, Semarang, Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya. Produknya ada krispi jamur tiram, krispi jamur kuping, olahan lain jamur seperti bakso, kerupuk dan peyek,” ujarnya, Kamis (2/9/2021) siang.

Tekstur jamur krispi yang renyah serta rasanya yang enak menjadi keistimewaan produk buatan Ali Murtopo. Tidak heran selama beberapa tahun jamur krispi buatannya banyak dicari. Saat itu omzet penjualan mencapai Rp20 juta per bulan.

Bahkan Ali mampu mempekerjakan enam ibu rumah tangga di sekitarnya untuk membantu proses produksi. “Dulu omzet kotor sebulan bisa sampai Rp20 juta. Itu kotornya sekitar Rp15 juta. Tapi setahun belakangan sepi,” sambungnya.

Menurut Ali, lesunya usaha yang ia geluti lantaran kondisi pandemi Covid-19. Sepinya warung-warung makan dan tidak adanya resepsi pernikahan membuat permintaan camilan jamur krispi Makarti anjlok drastis.

Penjualan Online

Bahkan selama masa pandemi Covid-19 omzet kotor jualannya hanya Rp5 juta per bulan. “Produk saya kan camilan, segmennya untuk oleh-oleh. Karena rumah makan pada libur, jadinya ya sepi. Saya jualannya kan sistem konsinyasi,” urainya.

Parahnya, sistem penjualan secara online produk Ali Murtopo belum maksimal. Sebab ia mengakui belum begitu menguasai teknologi informasi dan sistem penjualan online. Walau sudah ada beberapa akun media sosial produknya.

“Akun medsos sudah ada, tapi jujur saya masih gaptek. Kebetulan selama ini kami juga belum punya admin sendiri,” katanya. Ali berharap penurunan status PPKM di Boyolali dan sejumlah wilayah di Jawa akan memantik geliat ekonomi.

Hal itu seiring pelonggaran di beberapa kegiatan masyarakat, seperti resepsi pernikahan dan dibukanya pusat perbelanjaan. “Mudah-mudahan ke depan geliat ekonomi semakin terasa, sehingga para pelaku UMKM bisa bangkit,” harapnya.

Mengenai keunggulan produknya, menurut Ali, ada pada rasanya yang enak-gurih dan teksturnya yang renyah. Selain itu produk yang sudah dikemas dalam plastik bisa bertahan hingga enam bulan. “Kami pakai tepungnya tipis-tipis,” urainya.

Belum lama ini mengikuti UMKM Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia bekerja sama dengan Solopos Media Group. Ali mengikuti kegiatan itu agar bisa menambah pengalaman dan ilmu pemasaran dengan sharing bersama sesama pengusaha.

Pakai Kain Grade A, Batik Dewi Arimbi Tembus Pasar AS

Umkmexpo.com, SRAGEN–Sejak 2018 lalu, produk kerajinan batik Dewi Arimbi yang beralamat di Telukan, Grogol, Sukoharjo, sukses menembus pasar New Jersey, negara bagian dari Amerika Serikat.

Siapa sangka, keberhasilan ekspor kain batik ke luar negeri itu diawali dari sebuah keisengan belaka.

“Awalnya iseng saja. Saya coba kirimkan banyak sampel kain batik ke buyer. Dari situ ternyata ada buyer yang suka. Akhirnya mereka order ke kita. Alhamdulillah, sekarang ada tiga buyer yang jalin kerja sama dengan kita,” papar Dewi Arimbi, 40, owner CV Dewi Arimbi, kepada Solopos.com, Selasa (31/8/2021).

Arimbi memang menomorsatukan kualitas untuk membidik pasar luar negeri. Ia sengaja memilih jenis kain kualitas grade A. Ia tidak ragu me-reject produk kain batik apabila hasil produksi tidak sesuai ekspektasinya. Biasanya, kain yang di-reject itu karena ketidaksesuaian warna akibat pengaruh pengeringan yang kurang maksimal.

“Sebagian produk tidak saya approve karena saya benar-benar menjual kualitas. Mengapa kualitas saya kedepankan? Karena kita komunikasi dengan buyer itu hanya melalui email dan WA. Kita tidak bertatap muka secara langsung. Jadi, mereka hanya melihat kualitas produk batik kita. Jadi kualitas itu yang harus saya jaga,” papar Dewi.

Dalam setahun, Dewi bisa tiga kali mengekspor produk kain batik ke New Jersey. Sekali ekspor, minimal ia mengirimkan 6.000 yard (1 yard=91,4 cm). Paling tinggi, Dewi bisa mengirimkan 25.000 yard kain batik.

Ditinggal Suami Tersayang

Datangnya Pandemi Covid-19 sempat menjadi pukulan telak bagi usaha yang digeluti Dewi. Pamdemi membuat hampir semua negara termasuk Indonesia dan New Jersey sebagai sasaran ekspor batik memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat.

Hal itu berdampak pada keterlambatan pemesanan dan pengiriman. Bahkan, suami tersayang Dewi juga meninggal dunia karena positif Covid-19. Selama pandemi, Dewi tetap melayani order dari buyer dalam dalam keterbatasan. Bahkan, Dewi juga sudah mendapat kontrak order kain batik untuk tahun depan.

Guna menunjang tumbuh kembang usahanya, Paramita iseng mengikuti UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group. Pelatihan yang diikuti puluhan peserta itu digelar secara bertahap, April 2021-Juni 2021.

Dari kegiatan itu, Dewi baru sadar ada peluang besar untuk mengoptimalkan penjualan di pasar domestik. Bila sebagian besar pengusaha baru berpikir go internasional setelah sukses menakhlukkan pasar domestik, Dewi justru sebaliknya. Ia malah belum punya pengalaman memasarkan produk batiknya ke pasar lokal meski terbilang sukses menjual batiknya ke luar negeri.

“Dalam UMKM Virtual Expo, ada pelatihan packing dan branding untuk membidik pasar lokal. Sekarang saya baru proses ke sana. Rencana saya akan memasarkan produk fashion, bukan kain. Dalam pelatihan itu ada banyak teman. Itu jadi pelecut semangat saya untuk membidik pasar lokal. Tentunya dengan memanfaatkan marketplace seperti Shopee atau Tokopedia,” papar Dewi.

Kekinian, Orchita Batik Solo Berani Dobrak Pakem

Umkmexpo.com, KLATEN — Bisnis batik tak ada matinya. Di tengah perkembangan zaman, usaha batik ternyata banyak digandrungi orang, termasuk orang kantoran. Hal itulah yang dibuktikan Orchita Batik yang beralamat di Jl. Laos Utara No. 23 Kagokan, Pajang, Laweyan, Solo.

Berbekal sentuhan Leonie Bunga Orchita selaku pemilik Orchita Batik, model batik tak lagi terkesan kuno. Sebaliknya, Leonie mendobrak pakem yang sudah ada agar batik terkesan modern alias kekinian.

Batik bikinan Orchita Batik modelnya dibikin bertumpuk-tumpuk atau campuran beberapa motif. Hal itu dilakukan agar tak terkesan kuno. Produk Orchita Batik, di antaranya atasan, bawahan, gamis, daster, kain batik, dan lainnya.

Dari berbagai produk itu, Orchita Batik selalu memiliki ciri khas, yakni dapat mendukung ibu menyusui. Dengan cara seperti itu memudahkan ibu-ibu yang ingin menyusui dengan tetap memakai batik.

“Sasaran saya ke market muslimah [lengan panjang dan berhijab]. Batik saya juga untuk orang kantoran,” kata Leonie Bunga Orchita, kepada Solopos.com, Selasa (31/8/2021).

Jauh sebelum berkecimpung di dunia batik, Leonie telah merintis penjualan baju casual untuk mahasiswi di tahun 2010. Dia memilih namanya sendiri sebagai brand, yakni Orchita. Hal ini dilakukan setelah memperoleh masukan dari suaminya. Secara harfiah, orchita bermakna anggrek.

Seiring berjalannya waktu, Leonie Bunga Orchita mengubah usahanya dari menjual baju casual ke baju muslim. Hal itu dilakukan di tahun 2012/2013. Waktu itu, fashion muslim dinilai sedang naik daun. Leonie mengikuti perkembangan zaman seiring banyaknya hijabers.

Memasuki tahun 2014, dia sempat vakum karena harus bed rest sekitar enam bulan pascamenjalani operasi. Tak berselang lama, Leonie Bunga Orchita bangkit lagi membangun usahanya. Kali ini, wanita itu ikut-ikutan menjual batik sebagaimana yang sudah dilakukan suaminya.

“Orchita Batik itu lahir di tahun 2016,” katanya. Leonie  mengatakan penjualan batik bikinannya dilakukan secara online, yakni melalui market place atau pun melalui media sosial (medsos).

Menjangkau Semua Pulau

Pemasaran Orchita Batik tak hanya menjangkau di berbagai daerah di Tanah Air, seperti Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Lombok, Papua, dan lainnya.

“Selain di semua pulau di Indonesia, penjualannya juga pernah ke Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Untuk omzet Orchita Batik di awal-awal itu sempat mencapai tujuh digit-delapan digit,” katanya.

Leonie mengatakan munculnya pandemi Covid-19 sangat memengaruhi penjualan Orchita Batik. Meski seperti itu, dia tetap semangat berjualan.

“Orang berbisnis itu enggak mungkin lancar terus. Ini saya gunakan untuk berbenah diri, baik dalam keuangan, sistem, dan market,” katanya.

Leonie terus mengembangkan diri. Hal itu termasuk mengikuti UMKM Virtual Expo 2021 beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group.

“Hal paling berkesan [saat mengikuti UMKM Virtual Expo 2021] adalah marketing google my business. Itu sangat bermanfaat sekali bagi saya. Itu ada rekamannya juga, saya putar berulang kali. Melalui google my business ini juga bisa mempromosikan batik saya,” katanya.

 

Kisah Perjuangan Buruh Pabrik Banting Setir Jadi Pengusaha Kopi

Umkmexpo.com, SUKOHARJO — Sriyono, 40, warga Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo, telah empat tahun menggeluti bisnis kopi lokal asli Temanggung. Memanfaatkan lahan tanaman kopi milik keluarganya, Yono, sapaan akrabnya, memulai usaha tersebut.

Awalnya ia resah melihat hasil panen biji kopi yang dijual murah. Padahal, ia mengetahui harga biji kopi dapat melonjak berkali-kali lipat dengan pengolahan yang benar.

Hal itu lah yang memotivasinya mendirikan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) produksi kopi bernama Ebid Coffe. “Harga jual biji kopi setelah panen sekitar Rp25.000 per kilogram. Setelah saya olah dengan proses yang baik, bisa mencapai Rp150.000 per kilogram,” paparnya kepada Solopos.com, Senin (30/8/2021).

Yono menceritakan setelah panen hingga diolah menjadi kopi siap jual memerlukan waktu sekitar empat bulan. Ketersediaan biji kopi yang melimpah membuatnya mampu memasarkan olahan kopinya ke seluruh Indonesia.

Termasuk memasarkan ke pasar hingga toko oleh-oleh di Soloraya. “Jabodetabek ada produk kami, terakhir kami mengirim ke Papua. Pemasarannya bisa perorangan hingga warung kopi,” paparnya.

Pengolahan Kopi

Menurutnya, untuk menghasilkan kualitas kopi terbaik, pengolahan kopi harus benar dari hulu sampai ke hilir. Sebelum Yono turun ke kebun kopi, petani kopi cenderung memanen kopi secara asal. Seharusnya biji kopi yang dipetik harus sudah berwarna merah matang.

“Proses ini bisa kami ceritakan ke pelanggan. Rasa dan karakter kopi bisa diceritakan, termasuk saat proses,” paparnya.

Ebid Coffe memproduksi dua macam kopi yakni Robusta dan Arabika. Seluruh proses produksi hingga ke pemasaran dilakukan langsung oleh Yono.

Menurutnya seluruh sistem pemasaran online, offline, hingga ikut pameran kopi di seluruh kota ia ikut. Meskipun kopi lokal, kopi asal Temanggung memiliki berbagai keunggulan seperti aroma yang khas dikarenakan kandungan baik tanah Temanggung.

Persaingan di dunia kopi pun cukup ketat. Seluruh produsen kopi berlomba-lomba menghasilkan kualitas kopi terbaik. “Inovasi dan kualitas produk terus kami tingkatkan. Ini cara menyikapi persaingan di dunia kopi yang ketat,” paparnya.

Harga Jual Kopi

Harga kopi di Ebid Coffe cukup terjangkau. Robusta klasik dijual seharga Rp 80.000 per kilogram, robusta premium Rp135.000 per kilogram, robusta wine Rp280.000 per kilogram.

Lalu arabika full wash harganya Rp195.000 per kilogram, arabika natural Rp210.000, arabika wine Rp385.000 per kilogram. Ia mengakui omzet sempat menurun di masa pandemi ini. Namun, dalam sebulan omzetnya bisa mencapai Rp20 juta.

“Saya lulusan instalasi listrik, sempat kerja di pabrik setelah lulus. Masa kerja di pabrik saya jadikan pelajaran untuk pengolahan kopi,” paparnya.

Setelah fokus berwirausaha, ia fokus mengembangkan diri dengan terus belajar. Termasuk mengikuti peserta UMKM Virtual Expo 2021 Bank Indonesia (BI) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group.

Produk Kerajinan Karya Perempuan Sukoharjo ini Tembus Pasar Belanda dan Thailand

Umkmexpo.com, SOLO — Berawal dari hobi memadupadankan busana, Eniek Eka Yuniarti, 37, merintis usaha kerajinan tangan (handmade) berbagai produk aksesori untuk perempuan dengan brand Enock Craft Hand Made Accesories pada Juli 2018.

Produk kerajinan tangan karya Eniek seperti kalung, gelang, bros, anting, hiasan kepala, kalung masker, dan konektor masker. Berbagai produk buatan Eniek menggunakan dengan bahan-bahan kualitas premium.

Saat diwawancarai  Solopos.com melalui ponsel, Selasa (24/8/2021), ia menjelaskan usahanya hanya melayani pembelian secara online. “Berbagai produk kami bisa dilihat di media sosial Instagram, Youtube, Facebook, dan Tik Tok dengan nama Enock Craft. Semua ada di situ,” ujarnya.

Warga Perumahan Permata Purbayan 2 Kavling 46 Purbayan, Baki, Sukoharjo, itu mengatakan produk kerajinan tangan buatan Enock Craft Hand Made mempunyai keunggulan. Yakni customize, unik, handmade, menggunakan bahan-bahan premium, serta ada layanan fashion styles.

“Value produk kami customize, unik, handmade sehingga lebih awet, memakai bahan-bahan premium, serta ada fashion styles yang bisa sesuai bujet dan lain-lain. Jadi ada sesi konsultasinya. Kami biasanya desain dulu, sebelum luncurkan produk,” katanya.

Kain Wastra Nusantara

Sejumlah bahan kerajinan tangan yang digunakan Eniek seperti kain wastra nusantara yang kental nuansa etnis, aneka jenis bebatuan dan mutiara. Eniek ingin mengenalkan budaya bangsa melalui produk-produk aksesori dengan bahan kain wastra Nusantara.

Ia juga ingin bangsa ini semakin mencintai dan menggunakan produk lokal Tanah Air melalui berbagai aksesori produk kerajinan Enock Craft Hand Made. “Ketiga kami ingin mempercantik wanita Indonesia. Tagline kami serasikan busana anda dengan menggunakan produk aksesori Enock Craft,” urainya.

Setelah empat tahun berjuang, kini Eniek sudah mempunyai dua karyawan yang membantunya. Berbagai produknya juga sudah mulai menembus pasar ekspor di Belanda dan Thailand. Walau ia mengakui porsi ekspor Enock Craft masih dalam porsi minimalis.

Produk Dibuat Sesuai Karakter dan Acara

“Berdasarkan riset diketahui ternyata perempuan itu tidak ingin aksesorinya dikembari. Makanya kami buat produk customize, bisa dibuat sesuai dengan karakter dan acaranya. Produk kami juga selalu dibuat limited edition atau jumlah terbatas,” terangnya.

Poin lain riset, menurut Eniek, perempuan ingin tampil cantik dengan busananya bukan semata untuk menarik laki-laki. Tapi ada motif wanita tampil cantik agar lebih menarik dari wanita lain. Dua poin tersebut mendasari berbagai produk kerajinan dari Enock Craft Hand Made.

“Kami juga berkomitmen untuk membantu wanita-wanita Indonesia agar bisa membuka lahan pekerjaan bagi wanita lainnya. Kami sudah secara rutin menggelar workshop keterampilan atau kerajinan tangan bagi wanita-wanita Indonesia,” sambung peserta UMKM Expo 2021 yang digelar Solopos Media Group bersama Bank Indonesia itu.

Eniek mengaku mengikuti UMKM Expo 2021 agar Enock Craft lebih banyak dikenal dan dicintai masyarakat. Selain itu agar Enock Craft bisa go international dan ekspor, serta meningkatkan traffic penjualan.

Awalnya Bantu Orang Tua, Kini Bandeng Presto Bu Rita Boyolali Bisa Mendunia

Umkmexpo.com, SOLO – Niat awal membantu orang tua, ternyata membawa keberkahan bagi usaha Bandeng Presto Bu Rita, yang dikelola Ratih Suci Wulandari. Bahkan kini pemasaran olahan bandengnya sudah dipasarkan ke mancanegara.

Ratih, 32, perempuan kelahiran Jakarta memulai usahanya pada 2016. Sebenarnya Ratih sudah bekerja namun melihat kehidupan orang tuanya, di Boyolali, dia memilih untuk resign.

“Niat saya membantu perekonomian keluarga. Dengan mengembangkan usaha yang dirintis ibu yaitu pepes bandeng presto. Pepes dijual di warung kaki lima di Jl. Pandanaran, Boyolali,” ujar Ratih yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Setelah ditekuni ternyata, bandeng presto olahannya banyak yang suka dan cukup laris. Sehingga Ratih memberanikan diri untuk menitipkan dengan label Bandeng Presto Bu Rita. Nama Rita, lanjutnya, diambil dari nama ibunya.

Rupannya respons positif pasar tak membuat Ratih berpuas diri. Dia pun mulai mencova membuat olahan lain yang berbahan dasar ikan bandeng. Bahkan kini sudah ada 22 varian olahan bandeng dari usaha Bandeng Presto Bu Rita.

“Untuk bandeng presto saja ada, pepes bandeng presto, bandeng presto kremes. Kemudian bandeng presto crispy dan bandeng presto bumbu bacem, serta bumbu rujak,” ujar Ratih kepada Solopos.com.

Olahan Lain Bandeng Presto Bu Rita

Selain itu, olahan lainnya dari Bandeng Presto Bu Rita, ada sambel bandeng, kaldu bandeng. Untuk cemilan pun ada seperti keripik kulit dan stik duri bandeng. Ada juga otak-otak bandeng dan bandeng crispi cabut duri.

“Bandeng Presto Bu Rita dan variannya sudah memiliki izin edar dan sertifikat Halal. Olahan bandeng dari kami bisa dikirim ke seluruh Indonesia. Bahkan mancanegara dengan masa simpan sampai 5 hari untuk bandeng vacuum. Dan bertahan delapan bulan untuk produk kering,” ujar Ratih.

Kendati sudah mampu memasarkan olahan bandeng hingga ke mancanegara, Ratih tak segan untuk membagi ilmu. Dengan memberikan pelatihan offline di Kelurahan Winong, Boyolali atau di mana Ratih bertempat tinggal.

“Bandeng Presto Bu Rita juga memberikan pelatihan online lewat daring untuk wirausaha pemula. Ini bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan [KKP],” kata Ratih.

Ketekunannya dengan olahan bandeng membuat usaha Bandeng Presto Bu Rita masuk 5 besar UKM WOW 2018 se Kabupaten Boyolali.  Juara 2 dan juara 3 dalam lomba pangan lokal di kampus UTP Solo pada 2018 & 2019. Kemudian juara 3 di dalam perlombaan lomba masak ikan se Kabupaten Boyolali.

“Namun pandemi Covid-19 membuat semuanya berubah. Usaha olahan bandeng pun mengalami penurunan omset. Bahkan kami belum bisa menyewa kios lagi utk berjualan,” ujar Ratih.

Bandeng Presto Bu Rita di Marketplace

Kendati demikian, Ratih selaku pengelola usaha Bandeng Presto Bu Rita tak mau menyerah. Sehingga ketika ada UMKM Expo 2021 bersama Bank Indonesia (BI) semangatnya kembali muncul. Dia mendapatkan beragam ilmu bisnis dari pelatihan tersebut.

“Salah satunya teknik mengambil gambar produk, agar menjadi lebih menarik,” jelas Ratih.

Apalagi selain berjualan di www.bandengburita.com, Instagram  http://instagram.com/bandeng_presto_burita dan Facebook  https://www.facebook.com/bandeng.boyolali.5 juga di marketplace.

“Ada di marketplace, https://shopee.co.id/bandengprestoburita dan https://bukalapak.co.id/bandengprestoburita. Bisa juga kontak ke nomor 085729720835,” imbuh Ratih.

Kerajinan Bambu Buatan Warga Mojogedang Karanganyar Ini Tembus Negeri Paman Sam

Umkmexpo.com, KARANGANYAR — Bermula dari belajar lewat video di Youtube, seorang pria asal Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah, Anton Eko Wahyudi sukses menjalankan usahanya kerajinan bambu.

Usaha yang ia namai Projectbamboo ini sudah berjalan selama tiga tahun sejak 2018.

Anton bercerita awal mula dirinya tertarik dengan bisnis kerajinan ini karena melihat pohon bambu di rumahnya tak dimanfaatkan dengan baik. Sehingga tercetus idenya untuk membuat mainan lokomotif kereta api dari bambu untuk buah hatinya.

Hanya belajar lewat Youtube, dia belajar membuat kerajinan bambu lokomotif kereta api yang kini mengantarkan dia menjadi pengusaha sukses di daerahnya.

“Saya merintis usaha sekitar 2018, belum lama juga. Karena di rumah juga punya pohon bambu daripada sayang cuma buat memasak dan enggak begitu terpakai akhirnya coba-coba. Bikin kerajinan dan juga pengin buatin anak mainan lokomotif kereta,” cerita dia kepada Solopos.com, Senin (9/8/2021).

Usaha yang ia geluti selama tiga tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Ayah dari satu orang putra ini berhasil memasarkan produknya ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Bandung, Bali, dan Jakarta. Bahkan ada pula pemasok yang juga mengirimkannya ke Amerika Serikat.

“Pemasaran ke Bali, Jakarta sama Bandung. Ada yang dijual lagi dan ada pembeli langsung. Kebanyakan luar kota, untuk lokalan di kabupaten masih sedikit. Di Solo juga ada tapo kirimnya ke luar negeri, ke Amerika, kemudian ke India juga,” beber pria berusia 35 tahun itu.

Aneka Kerajinan Bambu dari Anton

Produk kerajinan bambu yang ia buat hasil belajar dari Youtube itu memiliki beragam jenis. Beberapa di antaranya, termos, cangkir, sendok dan garpu, dan lain sebagainya.

Tapi untuk saat ini, Anton mengaku yang paling diminati pelanggan, produk gelas dan termosnya.

Dari usahanya ini, Anton kini juga bisa memberdayakan masyarakat sekitar untuk membantu dia membuat kerajinan bambu yang awalnya belajar lewat Youtube ini.

“Termos dan cangkir paling laku, tapi untuk saat ini pre order. Kalau untuk saat ini ada saudara diajak bekerja. Kalau untuk orderan 10-20 ada 1 orang. Tapi pernah 100-150, saya ajak pemuda desa yang mau bantu kerja sama di kerajinan ini,” terang dia.

Untuk harganya sendiri, produk yang dibikin Anton berkisar Rp6.000 hingga Rp100.000. Tapi, khusus untuk lokomotif kereta api, ia memasang tarif Rp600.000. Dengan harga tersebut, ia berhasil meraup pendapatan hingga Rp1,5 juta per bulan.

Pada kesempatan itu, Anton mengaku bersyukur bisa menjalani bisnis kerajinan bambu Projectbamboo ini dengan baik, meski pandemi Covid-19 masih menyelimut Tanah Air.

“Alhamdulillah, saya tidak penrah berpikir sejauh dari ini. Dulu pikir dulu bikin buat mainan anak, eh kok banyak yang minat. Terus orderan banyak konsumen cocok. Kalau ide-ide baru dari konsumen saya terima,” pungkas dia.

Desain Modern ala Batik Tresno Dharma Karanganyar

Umkmexpo.com, KARANGANYAR – Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar dikenal dengan sentra batik. Salah satu merek batik yang tumbuh di wilayah itu adalah Batik Tresno Dharma.

Batik Tresno Dharma dirintis oleh Reni Suprihatin, 30, pada 2015 lalu. Saat dihubungi Solopos.com, Senin (16/8/2021), Reni bercerita awal mula mengembangkan usaha batik tulis tersebut. Seperti anak muda kebanyakan di Girilayu, Reni juga diajari membatik sejak dini.

Awalnya, dia hanya bekerja di sejumlah pabrik batik di Solo dan Sukoharjo. Setelah itu dia kembali ke kampung halaman dan bergabung dengan kelompok batik vokasi. Dari sini, Reni mengikuti sejumlah perlombaan membatik. Tak disangka, dia berhasil menjadi juara di perlombaan itu. Mulai dari juara ketiga dan pertama lomab membatik se-Jateng hingga menjadi juara harapan di tingkat nasional.

Prestasi itu meyakinkan diri Reni untuk membuat usaha batik sendiri. Namun, kemampuannya dalam membatik tak sejalan dengan penjualan produknya. Mendapat modal awal dari orang tua senilai Rp5 juta, Reni gagal membuatnya menjadi produk yang menghasilkan. Sebanyak dua gulung kain terbuang percuma karena beragam kesalahan.

Tak sampai di situ, Reni juga kena tipu orang. “Karena sudah gagal membuat produk, akhirnya kain dititipkan ke orang lain untuk dibuatkan batik. Tapi malah ditipu dan enggak ada kabarnya sampai sekarang,” tuturnya.

Kena tipu orang kembali terjadi kepada Reni. Bahkan kali ini kerugiannya lebih besar yakni mencapai Rp16 juta. “Rentetan kegagalan itu serta ada peristiwa penipuan itu sempat membuat saya ingin menutup usaha ini. Mental saya down, motivasi untuk meneruskan usaha ini juga menurun drastis,” katanya.

Namun beberapa waktu setelahnya, salah seorang temannya yang berasal dari Ambarawa tiba-tiba order desain batik. Dari sini, dia mulai berjualan desain batik mengandalkan alat tulis. Dari temannya ini pula, dia mulai mengikuti banyak pelatihan. “Setelah itu motivasi saya kembali muncul, pesanan desain batik juga mulai ramai.”

Hasil dari pesanan desain batik itu dia kumpulkan sebagai modal untuk mengembangkan usaha batiknya kembali. Kini, Reni tak cuma menjual desain batik, melainkan juga produk batik yang diberi nama Batik Tresno Dharma. “Untuk desain batik saya jual Rp150.000 per desain. Sedangkan untuk batiknya itu yang paling murah Rp200.000 per lembar kain, sementara yang paling mahal ada yang seharga Rp2,5 juta,” terang Reni.

Reni menuturkan keunggulan Batik Tresno Dharma adalah desain batiknya yang kontemporer serta pewarnaan. Sasarannya adalah milenial dan kolektor batik. “Saya sebenarnya jarang stok batik karena kebanyakan konsumen itu order desain sekalian. Jadi konsumen tinggal bilang mau dibuatkan batik seperti apa, nanti kita bikinkan.”

Penjualan produk Batik Tresno Dharma pun meluas. Mulai dari wilayah Soloraya, Jawa, Luar Jawa, hingga ke Luar Negeri. Reni menuturkan produknya pernah terjual hingga ke Belgia. “jadi ada teman pesan batik motif anak-anak. Saya buatkan motif dolanan bocah. Temannya teman saya itu kok suka, hingga akhirnya pesan ke saya. Alhamdulillah, produk saya sudah pernah mejeng di Belgia,” ungkap Reni.

Reni mengaku ada beberapa kekurangan yang masih dimilikinya untuk mengembangkan Batik Tresno Dharma. Seperti membuat packaging yang baik hingga bagaimana memasarkan produk dimarket place. Beberapa pelatihan dan pameran pun diikutinya.

Salah satunya adalah acara UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group. Dari pelatihan itu, Reni mengaku mendapat banyak pelajaran seperti memasarkan produk di marketplace.

“Selama ini saya memang masih kesulitan jualan di marketplace. Baru sebatas jualan di media sosial yakni Facebook dan Instagram. Sekarang saya mulai melirik ke marketplace dan masih proses untuk berjualan di situ,” katanya.

Inilah Sosok di Balik Larisnya Konsentrat Daun Kelor yang Menembus Hong Kong

Umkmexpo.com, SOLO – Kondisi pandemi Covid-19 membuat bisnis obat-obatan herbal cukup laris. Peluang bisnis yang menjanjikan itu pun dimanfaatkan oleh Fahrizal Maulana, 33, warga Mojosongo, Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah. Bersama istrinya dia mencoba peruntungan berbisnis obat herbal berupa konsentrat daun kelor.

Berbekal ketekunan dan kesabaran, usaha yang dirintis sejak 2019 lalu kini mulai berkembang. Bukan hanya berhasil memasarkan produk di Solo saja, produk yang dihasilkan Farhrizal dikirim sampai ke Hong Kong.

“Selama ini paling banyak COD di sekitar Solo. Kalau penjualan online sempat kirim sampai ke Aceh, Kalimantan, dan Hong Kong,” ujar Fahrizal kepada Solopos.com, Minggu (15/8/2021).

Sebelum memproduksi konsentrat daun kelor, Fahrizal dan istrinya lebih dulu menjajal bisnis suplemen untuk burung berkicau. Namun di tengah jalan dia justru bertemu dengan banyak orang yang menanyakan soal daun kelor. Guna mengobati rasa penasaran dia kemudian mencari tahu berbagai hal tentang daun kelor, termasuk khasiatnya.

Dia kemudian melihat ada peluang bisnis baru dan mencoba mengolah konsentrat daun kelor dengan merek Pusparirin. Sayangnya, hasil produksinya itu kurang maksimal karen memakai daun kelor yang tumbuh di alam liar, sehingga banyak mengandung timbal.

Tak berhenti begitu saja, pria lulusan teknik industri Univet Sukoharjo itu kemudian memanfaatkan kebun kosong di wilayah Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, untuk menanam kelor untuk produksi minuman herbal Pusparirin.

“Saya tanam sendiri kelor di kebun sekitar 0,5 hektare untuk memproduksi konsentrat ini. Dan ternyata kandungannya lebih baik daripada kelor yang tumbuh di alam bebas,” sambung dia.

Sekitar 1.000 bibit pohon yang dia tanam pun berhasil dipanen untuk membuat konsentrat berukuran 100 ml yang dijual seharga Rp30.000, untuk ukuran 200 ml Rp60.000, dan ukuran 500 ml seharga Rp130.000.  Bagi yang ingin memesan produk ini bisa mengunjungi akun Instagram @pusparirin.id atau melalui market place Shopee.

Sebelumnya Fahrizal takut memasarkan minuman herbal buatannya ke pasaran yang lebih luas karena belum mengantongi izin BPOM. Namun, kini izin BPOM dan label halal dari MUI pun sudah di tangan. Produk dengan merek Pusparirin itu merupakan hasil olahan daun kelor berupa konsentrat pertama yang mengantongi izin BPOM.

“Sekarang sudah ada izin saya siap memasarkan produk ini lebih luas. Bagi saya kalau mau jualan itu yang penting ngurus izin dulu,” terangnya.

Fahrizal pun mulai melakukan pemasaran secara online. Dia bersama istrinya mengikuti pelatihan UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group, beberapa waktu lalu.

Dalam pelatihan itu, Fahrizal mendapat banyak pelajaran berharga. Salah satunya yakni cara memasarkan produk secara online dengan menggunakan marketplaces seperti Shopee dan Tokopedia.

Pasangan suami istri ini pun berharap hasil produksi konsentrat daun kelor dapat dipasarkan lebih luas. Apalagi sejak dulu daun kelor sudah dikenal memiliki berbagai khasiat yang baik bagi tubuh, termasuk meningkatkan imunitas di tengah pandemi.

“Daun kelor ini banyak sekali manfaatnya, apalagi untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemi,” tandasnya.