Sepatu Bayi D’Paras Bikinan Warga Boyolali Bangkit di Tengah Pandemi

Umkmexpo.com, SUKOHARJO-– Di saat banyaknya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kembang kempis hingga gulung tikar karena pandemi Covid-19, namun tak berlaku bagi usaha yang digeluti Tutik Hariani, 39, warga Boyolali, Jawa Tengah.

Produk sepatu bayi dengan label D’Paras beralamat di Jalan Pandawa Nomor 35 Krapyak, Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali ini mampu bangkit di tengah pandemi corona. Tak tanggung-tanggung omset penjualannya melejit dari Rp1 juta menjadi Rp12 juta per bulan dalam hitungan bulan.

Pemilik D’Paras, Tutik Hariani menuturkan awal memulai memproduksi sepatu bayi dikerjakan saat awal pandemi Corona melanda Indonesia akhir Februari 2020 lalu. Saat itu usaha handicraft yang lebih dulu ditekuninya meredup dan nyaris bangkrut. Hingga akhirnya harus memutar otak agar usahanya terus berlanjut.

“Sebelumnya usaha handicraft sudah lumayan. Banyak pemesan berdatangan, seperti untuk hantaran nikahan, lamaran dan lainnya. Tapi awal Corona masuk Indonesia, usaha saya ini redup karena larangan menggelar hajatan,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (13/8/2021).

Tutik lantas tak berdiam diri. Melihat tren meningkatnya angka kehamilan dampak lockdown karena pandemi Corona, Tutik pun memberanikan diri memproduksi sepatu bayi dari berbekal keahliannya menjahit.

Di awal produksinya, Tutik mampu membuat 100 buah pasang sepatu bayi. Dengan mengandalkan jaringan lama usaha handicraft serta teman dan koleganya, usaha sepatu bayi tersebut dilirik pasar.

“Waktu itu sebulan hanya menjual 100 pasang sepatu bayi. Dengan pembeli hanya lokalan Boyolali saja,” tuturnya.

Penjualan Meningkat Tajam Saat Pandemi

Usaha sepatu bayi D’Paras semakin berkembang. Dalam waktu tiga bulan terakhir, penjualannya meningkat tajam. Dari produksi 100 pasang sepatu bayi, menjadi 1.000 pasang sepatu per bulannya setelah memaksimalkan penjualan secara online.

Tutik menjadi salah satu dari 50 peserta UMKM dan lolos mendapat pendampingan Virtual Expo 2021. Event yang merupakan kerja bareng Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo dan Solopos Media Group tersebut menyasar UMKM Soloraya agar go digital. Tutik memaksimalkan media digital dan media sosial untuk memperluas pasar dan mengerek pendapatan.

“Saya memanfaatkan channel digital media sosial, dan merambah e-commerce. Seperti lewat Shopee, Tokopedia dan lainnya,” katanya.

Tak ayal dari produksi secara mandiri, akhirnya Tutik merekrut empat orang tenaga kerja untuk membantu memenuhi tingginya permintaan pasar. Tiga orang tenaga kerja khusus tukang jahit dan satu orang tukang potong kain. Omset penjualan tercatat dari Rp1 juta per bulan, sekarang mencapai Rp12 juta per bulan.

Pemasaran produknya pun menembus pasar Luar Pulau Jawa. Selain sepatu bayi, kini Tutik memproduksi baju dan bandana bayi. Harga setiap produknya dijual sangat ramah dikantong, mulai Rp12.000 hingga Rp84.000.

Pemuda Lulusan FKIP UNS Ini Dapat Rezeki Nomplok dari Usaha Packaging Produk

Umkmexpo.com, SOLO — Syaiful Qowiy, 24, memperoleh rezeki nomplok saat menggeluti usaha pengemasan alias packaging produk yang dimulai sejak akhir 2019. Tak tanggung-tanggung, dia mampu meraup omzet hingga Rp30 juta per bulan meski di tengah pandemi Covid-19.

Syaiful Qowiy mengatakan usaha yang digelutinya dimulai Desember 2019. Waktu itu, Syaiful Qowiy yang baru saja lulus dari FKIP UNS Solo mencoba peruntungannya berbisnis boks kado.

Usaha yang digeluti dengan menggandeng beberapa temannya itu berjalan normal hingga Februari 2020. Memasuki Maret 2020, Syaiful Qowiy mulai memperoleh order mengemas sebuah produk produk dari kliennya.

Berbekal sentuhan packaging Syaiful Qowiy, produk dari berbagai brand di pasaran dinilai semakin laku keras. Packaging yang dilakukan Syaiful diyakini semakin mempercantik sebuah produk. Sejak saat itulah, dia lebih banyak melayani packaging berbagai brand di Solo dan daerah lain di Tanah Air.

“Awalnya memang ingin fokus di boks kado. Di tengah jalan itu, ternyata menemukan usaha packaging produk. Akhirnya yang boks kado ditinggal meski brand kami tetap memakai Takado Box [berlokasi di Kadipiro, Banjarsari, Solo],” kata Owner Takado Box, Syaiful Qowiy, saat dihubungi Solopos.com, Jumat (6/8/2021).

Hasilnya Tak Terduga

Jauh sebelum mengawali usaha boks kado dan packaging produk tersebut, Syaiful mengaku telah menggeluti usaha kerajinan kulit, seperti dompet kulit, gantungan kunci dari kulit, dan lainnya.

Di tengah usahanya itu, Syaiful berpikiran seluruh produk usaha ternyata membutuhkan packaging. Berangkat dari pemikiran itu, akhirnya Syaiful Qowiy betul-betul menekuni usaha packaging sebuah produk.

“Usaha ini tak terduga kami jalani. Hasilnya pun juga tak terduga akan seperti ini [maju pesat],” katanya.

Syaiful mengatakan usaha packaging produk tak terpengaruh dengan munculnya pandemi Covid-19. Sebaliknya, justru usaha yang digelutinya tersebut mulai meroket saat memasuki momentum Idulfitri 2021.

“Omzet di tahun 2020 mencapai Rp10 juta per bulan. Saat 2021 semakin naik lagi naik. Di momentum Idulfitri kemarin bisa mencapai Rp30 juta per bulan. Hingga sekarang setiap bulannya selalu ada order. Dalam satu bulan bisa lima perusahaan yang order,” katanya.

Meski usaha yang ditekuninya sudah mulai naik daun, Syaiful Qowiy mengaku masih banyak belajar untuk meningkatkan kualitas produknya. Hal itu termasuk merapikan administrasi keuangan, bersinergi dengan berbagai pelaku usaha lainnya, memperluas jaringan secara online, dan lainnya.

Syaiful juga terus mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai diskusi pengembangan usaha. Salah satunya dengan mengikuti UMKM Virtual Expo 2021 beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group.

“Banyak ilmu baru yang saya peroleh saat mengikuti UMKM Virtual Expo 2021. Peluang usaha ini berkembang masih sangat besar. Tim inti di Takado Box ini ada enam orang. Selain fresh graduate seperti saya, beberapa teman masih kuliah. Kami akan terus mengikuti perkembangan zaman guna membesarkan usaha ini,” katanya.

Kena PHK saat Pandemi, Kacang Ndelik Jadi Penyelamat Warga Karanganyar Ini

Umkmexpo.com, KARANGANYAR — Brehita Prihati Puspita tidak menyangka menjadi salah satu karyawan yang diberhentikan dari tempat bekerja pada masa awal pandemi Covid-19, April 2020. Kondisi terpuruk itu tidak lantas membuat perempuan itu patah arang. Kondisi itu justru membuatnya semakin tertantang.

Warga Perumahan Manggeh Anyar, RT 002/RW 013, Kelurahan Lalung, Kabupaten Karanganyar itu pun bangkit dan fokus pada pengembangan usahanya. Dia mengembangkan usaha kulinernya yang telah dirintis sejak masih bekerja sebagai karyawan toko roti di Semarang.

“Saya kena PHK [Pemutusan Hubungan Kerja] pada awal-awal Covid-19. Awal April 2020. Setelah tidak bekerja di Semarang, saya kembali ke Karanganyar fokus mengembangkan usaha,” kata Brehita saat dihubungi Solopos.com, Rabu (4/8/2021).

Perempuan berusia 31 tahun itu menceritakan usaha yang saat ini dikembangkannya adalah bisnis camilan dengan produk kacang ndelik dan keripik jamur tiram. Dia menceritakan sebenarnya usaha tersebut telah dirintis sejak 2017 saat masih bekerja di Semarang.

Awal membangun usaha camilan kacang ndelik pun dari iseng. Kala itu dia sedang membuat camilan yang nantinya diberi nama kacang ndelik. Hasil olahannya itu pun dimakan sendiri dan dibagikan kepada teman-temannya.

Tak disangka, ternyata banyak temannya yang doyan makan camilan kacang manis dan gurih itu. Hingga akhirnya ada teman yang memesan untuk dibuatkan kacang ndelik.

Sampingan

“Ada teman yang pesan, kemudian saya buatkan. Dari situ muncul ide untuk serius berjualan kacang ndelik. Pada waktu jelang Lebaran, saya menawarkan ke teman-teman kos [indekos] dan ternyata banyak yang beli,” ujar dia.

Usaha produksi kacang ndelik itu, kata dia, hanya bersifat sampingan. Hal ini karena Brehita masih berstatus sebagai karyawan. “Awal-awal usaha itu ya packaging masih sederhana. Pouch yang bening. Tidak ada lebel. Cuma dikasih nama produk dan nomor telepon,” katanya.

Setelah berhenti dari pekerjaan, Brehita kini fokus untuk mengembangkan dan membesarkan usahanya tersebut. Pemasaran online dan offline benar-benar diperbaiki. Packaging produk juga lebih dipercantik dan produknya bernanung dalam merek Kaloka.

Usaha yang dulu hanya sekadar sambilan, lanjut dia, kini justru menjadi yang utama. Setelah serius untuk fokus pada usaha ini, dia mampu meningkatkan penjualan dan omzet. Dari yang semula hanya beromzet Rp200.000 per bulan, kini naik menjadi Rp2 juta per bulan.

“Saat masih jadi karyawan kan cuma jadi sambilan saja. Tetapi setelah PHK, jadi yang utama. Alhamdulillah bisa sampai Rp2 juta per bulan,” ujar dia.

Produk kacang ndelik milik Brehita bisa didapat melalui marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan blibli.com . Selain itu, dalam setahun terakhir produknya juga sudah dipasarkan di empat toko oleh-oleh di kawasan Tawangmangu, Karanganyar, dan Kota Solo.

Manis dan Gurih

Namun, selama PPKM Darurat produknya terpaksa tidak disetor ke tempat penjualan oleh-oleh. Hal ini karena jumlah pembeli sangat sedikit.

“Selama PPKM ini, saya berhenti dulu ngirim ke toko oleh-oleh. Karena returnya banyak sekali. Mungkin karena tidak ada pengunjung,” kata dia.

Sedangkan untuk penjualan online, Bre mengaku sudah kerap menjual di berbagai kota di wilayah Jabodetabek dan Jawa Timur. Sebelum masa PPKM Darurat, dia mengaku bisa menjual 20 kg kacang ndelik per bulan.

Kacang ndelik ini memiliki cita rasa yang manis dan gurih. Kacang ndelik ini merupakan camilan yang terbuat dari kacang yang dibalut dengan adonan tepung dan karamel.

Brehita melalui produk kacang ndelik menjadi satu dari 50 peserta UMKM Virtual Expo 2021 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo dan Solopos Media Group. Dia merasa terbantu dalam membuat dan mengembangkan toko online di marketplace.

“Banyak wawasan tentang marketing digital yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu,” ujar dia.

Cerita Pemilik Abon Ksatria Solo yang Jatuh Bangun hingga Beromzet Rp50 Juta

Umkmexpo.com, SOLO — Berbekal ketekunan dan keuletan, Tri Rahayu Amperawati, 55, warga Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Solo sukses menjalankan usaha abon dengan brand Ksatria.

Usaha rumahan dirintis sejak 1999 lalu ini pun mampu meraup omzet hingga Rp50 juta per bulan. Tri mengawali usaha abon sapi kala melihat peluang makanan yang dibuat dari suiran daging dan dimasak hingga kering ini cukup besar di pasaran. Apalagi saat itu belum banyak pelaku usaha yang memproduksi abon tersebut.

“Kebetulan lokasi rumah saya dan buka toko kelontong di depan rambak legendaris Solo milik Wiryodiharjo. Di sana banyak orang datang dari berbagai daerah membeli rambak, lalu ada yang tanya beli abon di mana ya? Dari sini saya tertarik menjual abon,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com, Selasa (3/8/2021).

Di awal usahanya, Tri hanya menjual abon sapi hasil produksi dari ibu dan tantenya. Selain abon sapi juga dijual dendeng sapi. Namun, lambat laun sekitar tahun 2001, Tri mulai belajar cara membuat abon sapi dan dendeng. Usaha inipun tak semulus yang dibayangkan.

Pemilik usaha Abon Ksatria Solo ini harus jatuh bangun dengan kegagalan saat awal memproduksi abon dan dendeng sapi tersebut. Berkat ketekunan dan keuletan belajar membuat abon dan dendeng sapi, akhirnya produk olahannya diterima pasar.

Tak cukup memproduksi abon dan dendeng sapi. Tri juga mulai mengasah kemampuannya membuat srundeng dan lagi-lagi diterima pasar. Setahun kemudian, dia belajar membuat rambak kulit sapi dari sang ibu.

“Bukan untuk menyaingi rambak Wiryodiharjo. Tapi saat itu lebih ingin ikut menjaga tradisi keluarga yang kebetulan kakek saya juga jago membuat rambak,” tuturnya.

Dalam waktu dua tahun, usaha Abon Ksatria asal Solo ini memproduksi empat produk makanan dari abon, dendeng, srundeng dan rambak kulit sapi. Dimana saat itu omset penjualan sudah mencapai Rp10 juta per bulannya.

Tri pun terus mengasah kemampuannya hingga di 2010 lalu, menambah satu produk baru berupa abon ayam dan kremes kaldu ayam. Bahkan produk Abon Ksatria Solo dengan logo KS dari nama Ksatria ini menembus pasar hingga ke luar Jawa. “Sekarang omzet bulanan sudah mencapai Rp50 juta,” kata dia.

Berbagai cara dilakukan untuk memasarkan produknya, dari memaksimalkan jangkauan pemasaran online dengan menggunakan media sosial Instagram, Facebook juga melalui jaringan minimarket.

“Produk KS sudah ada di Indomaret. Ke depan juga akan ada di Alfamart,” tuturnya.

Produk abon dengan brand nama Ksatria beralamat di Jalan Kalikuantan Nomor 3 Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Solo ini merupakan satu dari 50 peserta UMKM dan lolos mendapat pendampingan Virtual Expo 2021. Event yang merupakan kerja bareng Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo dan Solopos Media Group tersebut menyasar UMKM Soloraya agar go digital.

Josss! Guru Bimbel Ini juga Jadi Pengusaha Roti

Umkmexpo.com, SUKOHARJO – Bisnis kuliner sebelumnya tidak ada dalam rencana masa depan Hastari. Ibu tiga anak itu sebelumnya hanya fokus mengejar cita-cita sebagai tenaga pendidik.

Cita-cita itu pun diwujudkan bersama sang suami dengan mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah (jateng). Meski demikian, sebagai perempuan, passion atau gairah untuk memasak dan menghidangkan makanan yang enak bagi keluarga tetap ada.

Justru gairah itu pulalah yang membuat Hastari akhirnya berkecimpung dalam bisnis kuliner pembuatan kue. Ia lantas mendirikan sebuah usaha kuliner yang diberi nama Ladiid’s Cake and Cookies di RT 001/RW 005, Dukuh Kadutan, Desa Bulu, Sukoharjo.

Bisnis yang didirikan pada 2014 lalu itu pun lambat laun mulai berkembang hingga menghasilkan banyak cuan. “Awal mulanya itu banyak teman minta dibuatin kue untuk arisan atau rapat. Dari situ, pada keterusan. Mungkin karena rasanya cocok,” cerita Hastari kepada Solopos.com, Selasa (3/8/2021).

Hastari mengaku sebelumnya tidak punya pengalaman berjualan kue. Ia bahkan tidak memiliki keahlian membuat kue. Kemampuannya itu diperoleh setelah banyak mencoba kue-kue yang dijual di pasaran. Dari situ, ia pun mulai belajar secara otodidak membuat kue.

“Selain itu, saya juga sering ikut pelatihan. Kemudian, coba-coba kue yang dijual di toko-toko terkenal, seperti mal. Ternyata, rasanya enggak jauh beda dengan kue buatan saya. Akhirnya, saya beranimemasarkan produk sendiri,” terang Hastari.

Ada berbagai macam kue yang dipasarkann Ladiid’s Cake and Cookies. Mulai dari kue tradisional, hingga kue modern seperti brownies, tiramisu, hingga tar.

Pelatihan UMKM

Sebelum pandemi, Hastari mengaku sempat kebanjiran order. Kebanyakan pesanan berasal dari orang- orang yang akan menggelar acara seperti ulang tahun, arisan, hingga rapat.

Namun di masa pandemi ini pesanannya pun mulai surut. Kebijakan pemerintah yang menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat membuat bisnisnya mulai turun. “Dulu saya bisa meraup keuntungan Rp14 juta per bulan. Kalau sekarang susah. Orang gelar ulang tahun dulu bisa pesan ratusan snack box. Sekarang 10 saja sudah bagus,” ujar Hastari.

Kendati demikian, Hastari tidak patah arang. Ia pun mencoba strategi pemasaran baru, yakni secara daring atau online. Berbagai pelatihan pun diikutinya, seperti UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo bekerja sama dengan Solopos.

Dari pelatihan itu, Hastari mendapat banyak manfaat, terutama dalam memasarkan produk secara online. Ia yang semula gagap teknologi (gaptek), kini sudah tahu caranya memasarkan produk melalui e-commerce dengan memanfaatkan marketplaces.

“Kebetulan di pelatihan itu kita juga difasilitasi marketplaces dari Shopee dan Tokopedia,” ujar perempuan berusia 34 tahun itu.

Pakai Tomat Lokal, Saus Pasta LaRissso Kini Tembus Negeri Singa

Umkmexpo.com, KARANGANYAR — Pasangan suami istri (pasutri), Arieffy Syafati, 36, dan Markos Tobing, 36, menggantungkan mimpi tinggi mengenalkan kuliner cita rasa Indonesia ke seluruh dunia.

Mimpi itu mereka wujudkan lewat produksi saus pasta artisan cita rasa Indonesia. Mimpi mulai dibangun pada 2016. Mereka melabeli saus pasta LaRissso sebagai saus pasta artisan maka konsekuensinya tidak sembarangan.

Saus pasta LaRissso dibuat dengan racikan bahan dan komposisi bumbu tertentu dipadukan dengan keahlian dan pengalaman si pembuat. Riri, sapaan akrab Arieffy Syafati, menuturkan suaminya, Markos, yang meracik dan membuat saus pasta tersebut.

Markos disebutnya mencoba-coba resep selama berbulan-bulan hingga tercipta saus pasta LaRissso saat ini. Ada empat varian produk, yaitu saus pasta bolognese, spicy tuna, spicy hot chicken, dan bbq smoked beef. Mereka memproduksi saus pasta LaRissso di rumah, Jalan Elang Mas XII No.6, Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.

“Konsep saus pasta artisan. Kami memegang betul resep dan cita rasa. Tidak ada keahlian chef, enggak ahli kuliner. Kami hanya hobi makan pasta dan kecintaan terhadap cita rasa Indonesia. Lalu muncul keinginan belajar membuat usaha. Maka kami menciptakan sesuatu yang baru tetapi sesuai lidah [orang] Indonesia,” kata Riri saat berbincang dengan Solopos.com melalui sambungan telepon, Jumat (16/7/2021).

Cerita latar belakang dua sejoli itu, Riri “lulusan” salah satu perbankan berstatus BUMN. Dia menyandang gelar dari sekolah program studi psikologi. Suaminya jebolan perusahaan produksi makanan dan minuman di Indonesia yang memiliki gelar dari program studi ekonomi. Keduanya memutuskan keluar dan merintis usaha.

Menggunakan Tomal Lokal

Kembali ke konsep saus pasta artisan, Riri memastikan tidak ada bahan dan bumbu yang diracik secara asal-asalan. Bahkan, mereka hanya mau mengambil bahan segar berkualitas dari petani lokal. Cerita Riri mengalir saat membahas bahan dasar saus pasta, yakni tomat. LaRissso hanya menggunakan tomat lokal asal Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.

“Kami produksi saus setiap hari. Kami ambil [tomat] dari petani Cepogo. Setiap pagi dikirim 60 kilogram tomat segar ke rumah produksi. Kasihan petani tomat saat panen melimpah. Banyak yang dibuang karena harga jatuh. Itu salah satu alasan kami beli tomat lokal. Siapa tahu bisa membantu menyejahterakan petani meski sedikit,” ujar dia.

Selain tomat, LaRissso juga menggunakan daging sebagai isian saus. Untuk saus pasta bolognese menggunakan daging giling kualitas premium, spicy tuna menggunakan serpihan daging ikan tuna, spicy hot chicken menggunakan daging ayam bagian dada dicincang, dan bbq smoked beef menggunakan daging asap.

Baca juga: Cita Rasa Unik Teh Gambyong Buatan Pengusaha Karanganyar Tembus Berbagai Pulau

Produk LaRissso dikemas dalam tiga jenis kemasan. Kemasan ekonomis sachet atau sekali santap, kemasan kaca 250 gram, dan kemasan pouch ukuran 500 gram hingga satu kilogram. Harganya berkisar Rp10.000 untuk sachet hingga Rp115.000 khusus untuk kemasan satu kilogram. Produk saus pasta LaRissso sudah melewati uji laboratorium untuk masa simpan mencapai enam bulan.

LaRissso berkepentingan memastikan produk yang dihasilkan tidak main-main. Bahkan mereka melabeli produk sebagai healthy food atau makanan sehat. Riri menyadari label itu membawa konsekuensi, salah satunya pasar produk LaRissso terbatas. Tetapi, dia tetap optimistis menggarap pasar tersebut.

“Kami cari sesuatu yang beda, unik. Ya susah di awal. Orang dengar saus itu pasti tanya beneran dari tomat? Jangan-jangan tomat busuk atau dicampur pepaya? Perbedaan kami dengan saus pasta lain, kami gunakan bahan natural, tanpa pengawet, tanpa msg. Semua bahan fresh. Kami pakai daging asli dan diolah dengan minyak kanola. Kami butuh mengedukasi customer [soal makanan sehat],” jelas dia.

Mimpi besar pasangan itu mengenalkan kuliner cita rasa Indonesia ke seluruh dunia mulai diwujudkan saat ini. Diawali dari pameran keliling sepuluh kota besar di Indonesia, yakni Surabaya, Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, Samarinda, Makassar, dan Bali, produk LaRisso kini merambah pasar Singapura.

Kelengkapan Sertifikat dan Izin

Modal mereka rajin mengikuti pameran kelas nasional maupun internasional. Riri mengakui ada campur tangan pemerintah dalam hal itu. Dimulai dari tahun 2018, usahanya terpilih menjadi salah satu Food Startup Indonesia (FSI) yang saat itu diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

“Ketemu banyak mentor yang ahli di bidang dalam acara Demoday. Kami presentasi. Awalnya kan ada LaRissso Spaghetti dan saus pasta. Lalu dari situ kami diarahkan untuk fokus menggarap satu hal. Kami garap manufaktur karena pasar lebih luas. Kami tutup dua outlet LaRissso Spaghetti,” katanya.

Setelah itu, mereka berbenah dari segi kelengkapan sertifikat produk makanan, kemasan, izin seperti produksi industri rumah tangga pangan (PIRT), badan pengawas obat dan makanan (BPOM) sedang proses, dan halal. Mereka juga membenahi rumah produksi untuk mendapatkan kelengkapan sertifikat dan izin yang dibutuhkan.

“Tahun lalu kami dihubungi Bank Indonesia Jawa Tengah dan dimasukkan 100 UMKM unggulan potensi ekspor Jateng. Kami diajari ekspor dan dipertemukan dengan pembeli dari Singapura. Saat ini sudah ekspor ke Singapura melalui eksportir di Semarang. Ke depan semoga bisa ekspor mandiri,” ungkap dia.

Awal tahun ini, saus pasta artisan LaRissso mengikuti pameran UMKM Gayeng 2021 yang berlangsung di Suntec City Mal Singapura. Pameran bertajuk UMKM Gayeng 2021 Monco Negoro: Artisan Jawa Tengah Go Internasional.

“Kami tiga kali mengirim produk ke Singapura. Setiap order di atas 100 sampai 500 piece. Respons pasar Singapura bagus. Order berulang dalam waktu beberapa bulan. Menurut mereka cita rasa saus pasta artisan LaRissso cocok dengan taste orang Singapura,” ujar dia.

Baca juga: UMKM Soloraya Didorong Bertransaksi Aman dengan QRis dan Qren

Riri menyebut saus pasta LaRissso bercita rasa lidah Indonesia, tetapi diminati pasar Singapura terutama rasa spicy tuna dan spicy hot chicken untuk Itali. Perempuan berkerudung itu menyampaikan omzet LaRissso mencapai Rp70 juta per bulan. Pasar mereka segmen tertentu seperti yang disebutkan di atas, yakni kafe dan restoran. Pemasaran online melalui marketplace dan offline di M Bloc Market Jakarta.

Menambah Teman dan Jaringan

Dalam waktu dekat, Riri mengaku diajak salah satu kementerian mengikuti pameran di Dubai World Expo selama enam bulan. Produk LaRissso dibawa untuk mewakili cita rasa Indonesia lewat komposisi rempah-rempah.

“Saat pameran internasional itu kami sempat ketemu buyer. Ada perusahaan pasta dari Itali tertarik dengan cita rasa saus pasta LaRissso. Tapi kapasitas kami belum bisa memenuhi permintaan mereka. Kalau seperti ini malah jadi semangat usaha supaya berkembang,” tutur dia.

Baca juga: Bidik Pasar Milenial dan Generasi Z, Jualan Online Harus Cerdik

Riri juga merupakan salah satu peserta UMKM Virtual Expo 2021. Kegiatan itu diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group (SMG). Dia berharap bisa menambah teman dan jaringan melalui ajang UMKM Virtual Expo tersebut.

“Punya teman baru. Saya juga bisa refresh ilmu. Saya sudah memasarkan produk lewat marketplace tapi mungkin belum maksimal. Nah, lewat ini siapa tahu bisa menambah customer, jaringan. Selalu ada dampak positif terus belajar. Kami jadi tahu tools apa yang harus dioptimalkan di marketplace. Semoga LaRissso bisa terus tumbuh dan membawa manfaat untuk orang banyak,” urai dia.

Kisah Iis Boyolali Lahirkan Onde-Onde Bu Is

Umkmexpo.com, BOYOLALI — Onde-onde memang lezat rasanya, apalagi onde-onde aneka rasa yang diproduksi Warga Boyolali ini. Ya, Lusia Iis Dewi Arinda, 35, adalah salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Boyolali yang memproduksi Onde-Onde Bu Is.

Berbeda dari onde-onde kebanyakan, Lusia membuat onde-onde dengan berbagai varian rasa. Iis, sapaan akrab Lusia, mulai merintis usaha Onde-Onde Bu Is Boyolali pada 2019. Bisnis onde-onde lahir dari ketidaksengajaan.

Awalnya ia mempunyai warung atau toko yang menjual ayam goreng kampung. Kemudian, ibunda Iis membuat camilan rumahan berupa onde-onde.

Saat itu ia mengunggah onde-onde buatan ibunya ke media sosial. Banyak teman dan koleganya yang merespons dan menanyakan makanan tradisional itu.

“Teman-teman bilang sepertinya enak. Suruh saya buatin onde-onde. Semakin banyak yang minat dan testimoni, kemudian saya posting lagi di media sosial. Lalu banyak permintaan,” kata dia kepada Solopos.com, Jumat (31/7/2021).

Saat itu onde-onde bikinan warga Boyolali ini menjadi bisnis sampingan di luar usaha ayam goreng. Namun, seiring berjalannya waktu justru banyak yang pesan onde-onde. Bahkan ibunya sampai kewalahan membuat karena banyaknya pesanan.

Rahasia Kelezatan

Atas kondisi itu, Iis mulai telaten dalam pembuatan onde-onde. Onde-onde Boyolali ini dibawa ke warungnya untuk dijual. Sejak saat itu, ia mulai mengurangi porsi penjualan ayam goreng dan lebih memperbanyak produksi onde-onde.

Lantas apa rahasia kelezatan Onde-Onde Bu Is Boyolali ini? Menurut Iis, perbedaan onde-onde yang ia buat dengan yang dijual di pasaran terletak pada higienitas dan mutu produk.

Dia menjamin onde-onde olahannya terjamin higenis dan berkualitas. Selain itu, onde-onde ini dibuat berbagai jenis varian rasa. Mulai dari keju, durian, cokelat hingga umbi ungu. Aneka varian rasa untuk membuat anak-anak dan remaja suka makanan tradisional.

Untuk memproduksi Onde-Onde Bu Is Boyolali, awalnya Iis hanya menghabiskan satu kilogram tepung bahan onde-onde.

Satu kilogram tepung bisa menjadi 80-90 buah onde-onde. Kini dia bisa menghabiskan tiga hingga empat kilogram tepung setiap hari. Sementara itu, omzet kotor setiap bulan yang diperoleh sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta.

“Onde-onde kami bungkus dengan kardus. Setiap kardus berisi delapan biji onde-onde. Harganya Rp20.000. Awalnya pakai mika, kemudian karena pelanggan saya merambah ke kantor dan biasa dibuat oleh-oleh, saya bikin pakai kardus. Selain agar lebih cantik juga terlindungi,” ungkap dia.

Ide Onde-Onde Kering

Produksi Onde-Onde Bu Is Boyolali dilakukan Iis dibantu dua karyawannya. Sistem penjualannya tidak dipasarkan ke warung-warung, namun dijual di tokonya sendiri.

Toko tersebut beralamat di Jl. Merapi No. 66 Surowedanan Pulisen Boyolali, kawasan perkotaan Boyolali. Selain itu, dia juga melayani pembelian lewat Gofood dan sejenisnya.

Iis belum merambah ke pasar online karena produk yang ia buat berupa onde-onde basah sehingga cukup riskan jika dikirim ke luar daerah. Maka, saat ini Iis tengah mengembangkan onde-onde kering agar bisa menembus ke pasar online. Onde-Onde Bu Is Boyolali ini dibuat tanpa pengawet sehingga hanya awet beberapa hari saja.

Iis merupakan satu dari 50 peserta UMKM Virtual Expo 2021. Event yang digelar oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group.

Dia menilai program UMKM Virtual Expo 2021 sangat berpengaruh dalam pengembangan usahanya. Banyak ilmu yang diperoleh dan bisa diterapkan, terutama di bidang pengembangan usaha UMKM secara online.

“Selain itu dengan adanya event itu juga menambah relasi. Banyak rekan yang bisa diajak berbagi pengalaman dalam mengembangkan usaha. Saat ini saya juga merancang penjualan online,” kata produsen onde-onde dari Boyolali tersebut.

Rahasia Kacang Mete Kun Wonogiri Siap Tembus Pasar Australia dan Turki

Umkmexpo.com, SOLO — Dari berbagai usaha mikro kecil dan menengah yang sedang berkembang di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), ada Kacang Mete Kun Wonogiri. Meski tergolong usaha baru, produksi UMKM ini cukup sukses menembus pasar Tanah Air, bahkan sudah mulai ancang-ancang dipasarkan ke luar negeri.

Usaha yang dirintis Sigit Kuncoro, 27, pada 2019 itu telah merambah pasar berbagai kota seperti Lampung, Jambi, Bandung, dan Jakarta. Kini, usaha milik warga Sanggrong RT 001/RW 005 Desa Tegalrejo, Purwantoro, itu tengah membidik pasar ekspor.

“Saya ingin usaha ini lebih berkembang, karena kebetulan beberapa bulan lalu ada tawaran ekspor ke Australia dan Turki. Tapi belum mampu kami suplai, sehingga pending. Ke depan harapan kami bisa ekspor ke sejumlah negara,” terangnya kepada Solopos.com, Jumat (30/7/2021).

Sigit Kuncoro mengisahkan usaha Kacang Mete Kun Wonogiri berawal dari ketidaksengajaan. Pada 2019 ia membantu temannya yang berjualan mete dengan menjadi reseller. Ketika itu ia juga sedang membutuhkan tambahan uang untuk biaya sekolah jenjang S2.

“Awalnya saya niat jualan kebetulan karena saya sekolah study S2. Kan butuh biaya. Saya coba jualin ternyata diterima masyarakat, respons pasar luar biasa. Dulu dibantuin teman-teman kuliah, relasi, marketplace dan teman-teman grup Whatsapp,” urainya.

Dalam perkembangannya, Sigit Kuncoro lantas memproduksi sendiri kacang mete tersebut. Dengan memanfaatkan jejaring yang sudah ada, usahanya terus berkembang. Bahkan kini ia sudah mempunyai puluhan reseller yang mendongkrak penjualannya.

Belajar Strategi Marketing Di UMKM Expo

“Untuk penjualan saya banyak dibantu teman-teman reseller, ada 20 an reseller. Tapi mayoritas pasar atau penjualan kami sampai 80 persen di Bandung dan Jakarta,” kata pemuda yang baru saja melangsungkan pernikahan pada Kamis (29/7/2021) tersebut.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Sigit Kuncoro mampu memasarkan produk Kacang Mete Kun Wonogiri hingga 50 kilogram per bulan. Namun sejak pandemi Covid-19 usahanya perlahan-lahan lesu dan kini hanya menyuplai 25-30 kilogram kacang mete setiap bulannya.

Ia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir dan sektor usaha kembali menggeliat. Langkahnya mengikuti UMKM Expo 2021 bersama Bank Indonesia (BI) merupakan salah satu upaya mengembangkan usaha kacang mete asli dari Wonogiri.

“Saya jadi kenal dengan para pelaku UMKM lain [lewat UMKM Expo], bisa saling belajar dan tukar pengalaman. Tahu berbagai strategi marketing dan tips mengembangkan usaha. Mudah-mudahan Kacang Mete Kun Wonogiri bisa segera merambah pasar ekspor,” harap Sigit.

Produk kacang meter Kuncoro tersedia dalam berbagai pilihan, mulai dari kondisi mentah hingga berbagai kualitas. Begitu juga untuk rasa ada orisinal, pedas manis, dan madu oven. Kacang mete Kun tidak menggunakan penyedap rasa dan bahan pengawet.

Rahasia Sukses Savia_Clothing Bermula dari Hobi Gonta-Ganti Baju

Umkmexpo.com, SOLO – Hobi selain menyenangkan jika benar-benar ditekuni bisa menjadi bisnis yang menjanjikan, seperti yang dilakukan Putri Yani Dwi Nurul Safiah, yang membuka bisnis fashion Savia_Clothing.

Toko baju dengan harga terjangkau miliknya berada di Jl. Pisang RT 03 RW 12 Susiloharjo Siswodipuran, Boyolali. Namun sebelum memiliki toko utama Putri Yani sempat membuka toko di Gemolong, Sragen.

Usaha fashion Savia_Clothing yang ditekuni mantan karyawati BRI ini berawal dari hobinya gonta ganti baju saat kuliah. Putri Yani pun mencoba memadupadankan setiap baju yang dipakainya agar nyaman dikenakan dan tentunya indah dipandang.

“Kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta [UMS] jurusan akuntasi. Nah semasa kuliah kan biar terlihat beda, saya hobi gonta ganti baju. Biar tidak bosan dan terlihat berbeda coba memadupadankan baju,” tutur Putri Yani kepada Solopos.com.

Baca juga: UMKM Virtual Expo 2021: Mau Ekspor via Shopee Nggak Harus Punya Follower Luar Negeri Lho…

Ketika semakin asyik dengan hobinya tersebut, Putri Yani pun berpikir kenapa tidak menjadikannya bisnis sekalian. Apalagi dia sudah memiliki jaringan penjual baju dengan harga terjangkau. Hingga munculah Savia_Clothing.

“Akhirnya saya membuka toko di UMS, harganya terjangkau untuk ukuran kantong mahasiswa. Hingga lulus dan diterima kerja di BRI. Agar usaha tetep jalan, toko yang di UMS pun digeser ke Gemolong, Sragen,” ujarnya.

Ternyata usaha fashion sangat menjanjikan, Putri Yani pun mulai berpikir untuk benar-benar fokus pada bisnis Savia_Clothing yang dimulai 2017. Sehingga dia memutuskan untuk resign sebagai karyawati BRI.

“Selain toko offline di Boyolali, saya juga memasarkannya secara online melalui Shopee dengan nama, Savia-Clothing. Sasarannya perempuan berusia 17-40 tahun,” ujar Putri Yani.

Dinamika Usaha Savia_Clothing

Hanya saja Putri Yani mengaku bisnis Savia_Clothing sedikit mengalami kelesuan akibat pandemi. Tak hanya sedih imbas pandemi, Putri Yani juga mengaku pernah di-ghosting calon pembeli.

“Namun itu dinamika usaha, jadi harus sabar dan terus mencari terobosan. Salah satunya menjadi peserta UMKM Virtual Expo 2021,” kata Putri Yani.

UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo dengan Solopos Media Group. Pelatihan ini diikuti puluhan peserta dan digelar secara bertahap, April – Juni 2021.

“Banyak ilmu yang didapat, juga menambah jaringan dan komunitas untuk bisnis Savia_Clothing. Termasuk berbagai informasi mengenai bisnis, pengembangan bisnis, dan membidik pasar yang tepat,” imbuh Putri Yani.

Wow! Bawang Goreng Buatan Wong Sukoharjo Ini Tembus Pasar Dunia

Umkmexpo.com, SRAGEN--Sebuah pesan masuk ke ponsel Andi Gunaryanto, 28, pada 2018 silam. Seorang teman yang bekerja di Singapura mengirimkan foto produk bawang merah goreng kemasan 100 gram.

Warga Jombor, Bendosari, Sukoharjo, itu tercengang setelah melihat label harga produk bawang goreng itu yang mencapai $10 atau setara Rp100.000.

“Dari situ saya punya ide untuk membuat produk serupa dengan kemasan lebih higienis untuk dipasarkan di Indonesia,” jelas Andi kepada Solopos.com, Senin (26/7/2021).

Kesuksesan memang tidak didapat dengan cara instan. Setelah melalui trial and error selama setahun, produk bawang goreng racikan Andi baru bisa diterima pasar. Pada 2019 lalu, Andi mulai mengurus perizinan usahanya.

Sejak saat itu, ia mulai serius memasarkan produk bawang goreng yang diberi merk Mang Sopar. “Untuk menemukan racikan bumbu yang pas itu juga butuh trial and error. Dalam waktu setahun itu, saya juga masih mencari formula yang tepat untuk berjualan,” ucapnya.

Dalam sehari, Andi membutuhkan 15-20 kg bawang merah. Rasionya, 3 kg bawang merah mentah bisa menjadi 1 kg bawang goreng. Andi sengaja menyasar dua pangsa pasar yakni kelas menengah ke bawah dan kelas menengah ke atas.

Mempercantik Kemasan

Untuk kelas menengah ke bawah, ia biasa menjual Rp5.000 untuk 32 gram bawang goreng dan Rp10.000 untuk 65 gram bawang goreng kemasan plastik bening. Sementara untuk menyasar pasar menengah ke atas, Andi mempercantik kemasan dengan stoples maupun dengan pouch paper metal.

“Untuk 100 gram plastik biasa dijual Rp15.000, untuk 250 gram kemasan stoples biasa saya jual Rp38.500. Sementara untuk kemasan pouch paper metal 100 gram dijual Rp21.000,” terang ayah dua anak itu.

Untuk mendapatkan bahan baku, Andi sengaja memberdayakan petani lokal di wilayah Bekonang, Polokarto, sebagian dari Boyolali, Kulonprogo dan Brebes. Pangsa pasar bawang goreng Mang Sopar merupakan warung makan lokal hingga nasional. Melalui bantuan teman-temannya yang jadi pahlawan devisa, bawang goreng Mang Sopar bisa merambah ke luar negeri.

“Kebetulan saya punya banyak teman di BMI [Buruh Migran Indonesia] yang tersebar di Hong Kong, Malaysia dan Singapura. Paling tidak satu bulan sekali, mereka minta dikirimi bawang goreng Mang Sopar. Sekali kirim rata-rata 1-2 kg,” papar Andi.

Diberlakukannya PPKM dalam rangka menekan angka penularan Covid-19 sempat membuat penjualan bawang goreng Mang Sopar di pasar lokal turun hingga 40%. Ini terjadi karena banyak warung makan yang memilih tutup selama PPKM. Beruntung, Andi sudah memasarkan produk melalui market place sehingga dampak terjadinya pandemi tidak begitu berpengaruh.

“Justru selama pandemi ini, terjadi peningkatan penjualan secara online. Di Shopee misalnya, rata-rata saya bisa menjual 100 produk dalam sebulan,” terang Andi.

Guna menunjang usahanya, Andi berkesempatan mengikuti UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group. Pelatihan yang diikuti puluhan peserta itu digelar secara bertahap, April 2021-Juni 2021.

“Ada banyak target yang ingin saya capai setelah mengikuti UMKM Virtual Expo. Saya ingin memiliki aplikasi pengelola keuangan dan melayani pembayaran melalui barcode. Jadi, alat transaksinya nanti bisa pakai shopee pay maupun go pay. Tapi, target utama saya itu bisa menjalankan Ekspor Shopee. Sementara ini saya masih memakai akun punya teman untuk dapat mengekspor produk saya ke luar negeri. Ke depan, saya ingin menjalankan sendiri Ekspor Shopee,” ucapnya.