Desain Modern ala Batik Tresno Dharma Karanganyar

Umkmexpo.com, KARANGANYAR – Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar dikenal dengan sentra batik. Salah satu merek batik yang tumbuh di wilayah itu adalah Batik Tresno Dharma.

Batik Tresno Dharma dirintis oleh Reni Suprihatin, 30, pada 2015 lalu. Saat dihubungi Solopos.com, Senin (16/8/2021), Reni bercerita awal mula mengembangkan usaha batik tulis tersebut. Seperti anak muda kebanyakan di Girilayu, Reni juga diajari membatik sejak dini.

Awalnya, dia hanya bekerja di sejumlah pabrik batik di Solo dan Sukoharjo. Setelah itu dia kembali ke kampung halaman dan bergabung dengan kelompok batik vokasi. Dari sini, Reni mengikuti sejumlah perlombaan membatik. Tak disangka, dia berhasil menjadi juara di perlombaan itu. Mulai dari juara ketiga dan pertama lomab membatik se-Jateng hingga menjadi juara harapan di tingkat nasional.

Prestasi itu meyakinkan diri Reni untuk membuat usaha batik sendiri. Namun, kemampuannya dalam membatik tak sejalan dengan penjualan produknya. Mendapat modal awal dari orang tua senilai Rp5 juta, Reni gagal membuatnya menjadi produk yang menghasilkan. Sebanyak dua gulung kain terbuang percuma karena beragam kesalahan.

Tak sampai di situ, Reni juga kena tipu orang. “Karena sudah gagal membuat produk, akhirnya kain dititipkan ke orang lain untuk dibuatkan batik. Tapi malah ditipu dan enggak ada kabarnya sampai sekarang,” tuturnya.

Kena tipu orang kembali terjadi kepada Reni. Bahkan kali ini kerugiannya lebih besar yakni mencapai Rp16 juta. “Rentetan kegagalan itu serta ada peristiwa penipuan itu sempat membuat saya ingin menutup usaha ini. Mental saya down, motivasi untuk meneruskan usaha ini juga menurun drastis,” katanya.

Namun beberapa waktu setelahnya, salah seorang temannya yang berasal dari Ambarawa tiba-tiba order desain batik. Dari sini, dia mulai berjualan desain batik mengandalkan alat tulis. Dari temannya ini pula, dia mulai mengikuti banyak pelatihan. “Setelah itu motivasi saya kembali muncul, pesanan desain batik juga mulai ramai.”

Hasil dari pesanan desain batik itu dia kumpulkan sebagai modal untuk mengembangkan usaha batiknya kembali. Kini, Reni tak cuma menjual desain batik, melainkan juga produk batik yang diberi nama Batik Tresno Dharma. “Untuk desain batik saya jual Rp150.000 per desain. Sedangkan untuk batiknya itu yang paling murah Rp200.000 per lembar kain, sementara yang paling mahal ada yang seharga Rp2,5 juta,” terang Reni.

Reni menuturkan keunggulan Batik Tresno Dharma adalah desain batiknya yang kontemporer serta pewarnaan. Sasarannya adalah milenial dan kolektor batik. “Saya sebenarnya jarang stok batik karena kebanyakan konsumen itu order desain sekalian. Jadi konsumen tinggal bilang mau dibuatkan batik seperti apa, nanti kita bikinkan.”

Penjualan produk Batik Tresno Dharma pun meluas. Mulai dari wilayah Soloraya, Jawa, Luar Jawa, hingga ke Luar Negeri. Reni menuturkan produknya pernah terjual hingga ke Belgia. “jadi ada teman pesan batik motif anak-anak. Saya buatkan motif dolanan bocah. Temannya teman saya itu kok suka, hingga akhirnya pesan ke saya. Alhamdulillah, produk saya sudah pernah mejeng di Belgia,” ungkap Reni.

Reni mengaku ada beberapa kekurangan yang masih dimilikinya untuk mengembangkan Batik Tresno Dharma. Seperti membuat packaging yang baik hingga bagaimana memasarkan produk dimarket place. Beberapa pelatihan dan pameran pun diikutinya.

Salah satunya adalah acara UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group. Dari pelatihan itu, Reni mengaku mendapat banyak pelajaran seperti memasarkan produk di marketplace.

“Selama ini saya memang masih kesulitan jualan di marketplace. Baru sebatas jualan di media sosial yakni Facebook dan Instagram. Sekarang saya mulai melirik ke marketplace dan masih proses untuk berjualan di situ,” katanya.

Inilah Sosok di Balik Larisnya Konsentrat Daun Kelor yang Menembus Hong Kong

Umkmexpo.com, SOLO – Kondisi pandemi Covid-19 membuat bisnis obat-obatan herbal cukup laris. Peluang bisnis yang menjanjikan itu pun dimanfaatkan oleh Fahrizal Maulana, 33, warga Mojosongo, Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah. Bersama istrinya dia mencoba peruntungan berbisnis obat herbal berupa konsentrat daun kelor.

Berbekal ketekunan dan kesabaran, usaha yang dirintis sejak 2019 lalu kini mulai berkembang. Bukan hanya berhasil memasarkan produk di Solo saja, produk yang dihasilkan Farhrizal dikirim sampai ke Hong Kong.

“Selama ini paling banyak COD di sekitar Solo. Kalau penjualan online sempat kirim sampai ke Aceh, Kalimantan, dan Hong Kong,” ujar Fahrizal kepada Solopos.com, Minggu (15/8/2021).

Sebelum memproduksi konsentrat daun kelor, Fahrizal dan istrinya lebih dulu menjajal bisnis suplemen untuk burung berkicau. Namun di tengah jalan dia justru bertemu dengan banyak orang yang menanyakan soal daun kelor. Guna mengobati rasa penasaran dia kemudian mencari tahu berbagai hal tentang daun kelor, termasuk khasiatnya.

Dia kemudian melihat ada peluang bisnis baru dan mencoba mengolah konsentrat daun kelor dengan merek Pusparirin. Sayangnya, hasil produksinya itu kurang maksimal karen memakai daun kelor yang tumbuh di alam liar, sehingga banyak mengandung timbal.

Tak berhenti begitu saja, pria lulusan teknik industri Univet Sukoharjo itu kemudian memanfaatkan kebun kosong di wilayah Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, untuk menanam kelor untuk produksi minuman herbal Pusparirin.

“Saya tanam sendiri kelor di kebun sekitar 0,5 hektare untuk memproduksi konsentrat ini. Dan ternyata kandungannya lebih baik daripada kelor yang tumbuh di alam bebas,” sambung dia.

Sekitar 1.000 bibit pohon yang dia tanam pun berhasil dipanen untuk membuat konsentrat berukuran 100 ml yang dijual seharga Rp30.000, untuk ukuran 200 ml Rp60.000, dan ukuran 500 ml seharga Rp130.000.  Bagi yang ingin memesan produk ini bisa mengunjungi akun Instagram @pusparirin.id atau melalui market place Shopee.

Sebelumnya Fahrizal takut memasarkan minuman herbal buatannya ke pasaran yang lebih luas karena belum mengantongi izin BPOM. Namun, kini izin BPOM dan label halal dari MUI pun sudah di tangan. Produk dengan merek Pusparirin itu merupakan hasil olahan daun kelor berupa konsentrat pertama yang mengantongi izin BPOM.

“Sekarang sudah ada izin saya siap memasarkan produk ini lebih luas. Bagi saya kalau mau jualan itu yang penting ngurus izin dulu,” terangnya.

Fahrizal pun mulai melakukan pemasaran secara online. Dia bersama istrinya mengikuti pelatihan UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group, beberapa waktu lalu.

Dalam pelatihan itu, Fahrizal mendapat banyak pelajaran berharga. Salah satunya yakni cara memasarkan produk secara online dengan menggunakan marketplaces seperti Shopee dan Tokopedia.

Pasangan suami istri ini pun berharap hasil produksi konsentrat daun kelor dapat dipasarkan lebih luas. Apalagi sejak dulu daun kelor sudah dikenal memiliki berbagai khasiat yang baik bagi tubuh, termasuk meningkatkan imunitas di tengah pandemi.

“Daun kelor ini banyak sekali manfaatnya, apalagi untuk meningkatkan daya tahan tubuh di tengah pandemi,” tandasnya.

Rahasia Sukses Savia_Clothing Bermula dari Hobi Gonta-Ganti Baju

Umkmexpo.com, SOLO – Hobi selain menyenangkan jika benar-benar ditekuni bisa menjadi bisnis yang menjanjikan, seperti yang dilakukan Putri Yani Dwi Nurul Safiah, yang membuka bisnis fashion Savia_Clothing.

Toko baju dengan harga terjangkau miliknya berada di Jl. Pisang RT 03 RW 12 Susiloharjo Siswodipuran, Boyolali. Namun sebelum memiliki toko utama Putri Yani sempat membuka toko di Gemolong, Sragen.

Usaha fashion Savia_Clothing yang ditekuni mantan karyawati BRI ini berawal dari hobinya gonta ganti baju saat kuliah. Putri Yani pun mencoba memadupadankan setiap baju yang dipakainya agar nyaman dikenakan dan tentunya indah dipandang.

“Kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta [UMS] jurusan akuntasi. Nah semasa kuliah kan biar terlihat beda, saya hobi gonta ganti baju. Biar tidak bosan dan terlihat berbeda coba memadupadankan baju,” tutur Putri Yani kepada Solopos.com.

Baca juga: UMKM Virtual Expo 2021: Mau Ekspor via Shopee Nggak Harus Punya Follower Luar Negeri Lho…

Ketika semakin asyik dengan hobinya tersebut, Putri Yani pun berpikir kenapa tidak menjadikannya bisnis sekalian. Apalagi dia sudah memiliki jaringan penjual baju dengan harga terjangkau. Hingga munculah Savia_Clothing.

“Akhirnya saya membuka toko di UMS, harganya terjangkau untuk ukuran kantong mahasiswa. Hingga lulus dan diterima kerja di BRI. Agar usaha tetep jalan, toko yang di UMS pun digeser ke Gemolong, Sragen,” ujarnya.

Ternyata usaha fashion sangat menjanjikan, Putri Yani pun mulai berpikir untuk benar-benar fokus pada bisnis Savia_Clothing yang dimulai 2017. Sehingga dia memutuskan untuk resign sebagai karyawati BRI.

“Selain toko offline di Boyolali, saya juga memasarkannya secara online melalui Shopee dengan nama, Savia-Clothing. Sasarannya perempuan berusia 17-40 tahun,” ujar Putri Yani.

Dinamika Usaha Savia_Clothing

Hanya saja Putri Yani mengaku bisnis Savia_Clothing sedikit mengalami kelesuan akibat pandemi. Tak hanya sedih imbas pandemi, Putri Yani juga mengaku pernah di-ghosting calon pembeli.

“Namun itu dinamika usaha, jadi harus sabar dan terus mencari terobosan. Salah satunya menjadi peserta UMKM Virtual Expo 2021,” kata Putri Yani.

UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo dengan Solopos Media Group. Pelatihan ini diikuti puluhan peserta dan digelar secara bertahap, April – Juni 2021.

“Banyak ilmu yang didapat, juga menambah jaringan dan komunitas untuk bisnis Savia_Clothing. Termasuk berbagai informasi mengenai bisnis, pengembangan bisnis, dan membidik pasar yang tepat,” imbuh Putri Yani.

Berawal dari Keresahan, Purwanti Kini Bermozet Rp20 Juta dari Jualan Ikan Crispy

Umkmexpo.com, SRAGEN — Berawal dari keresahannya terhadap hasil tangkapan ikan yang berlimpah di Waduk Kedung Ombo yang terbuang sia-sia, Purwanti kemudian memutar otak untuk mengolahnya menjadi makanan. Kini hasil olahannya berupa wader dan petek crispy menjadi salah satu camilan khas yang diburu wisatawan Waduk Kedung Ombo.

Purwanti, 37, merupakan warga Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Pada 2009, saat pindah domisili di Desa Ngargosari yang lokasinya dekat Waduk Kedung Ombo, Purwanti melihat banyak hasil tangkapan nelayan yang terbuang sia-sia. Ikan hasil tangkapan berupa wader dan petek banyak yang dibuang.

“Suami saya kan punya karamba di Kedung Ombo. Mertua juga penjual ikan tangkapan nelayan. Saya melihat banyak ikan tangkapan yang dibuang. Itu sebagian sudah diolah, tetapi memang terlalu banyak tangkapannya,” kata dia saat dihubungi Solopos.com, Kamis (22/7/2021).

Atas kondisi itu, Purwanti kemudian berkeinginan untuk mengolah ikan kecil-kecil itu menjadi makanan yang layak dijual. Hingga akhirnya, dia berhasil mengolahnya menjadi ikan crispy.

Awal-awal berjualan, dia menjual dengan cara berkeliling dari warung ke warung. Kemudian, dia juga memberanikan diri untuk menjual di kawasan wisata Kedung Ombo.

Tak disangka, ikan crispy buatannya yang berbahan wader dan petek ternyata sangat disukai wisatawan yang datang ke Waduk Kedung Ombo. Bukan hanya itu, dia juga berhasil menjual ikan crispy itu ke warung-warung makan di kawasan Kedung Ombo.

Sebelum masa pandemi Covid-19, lanjut Pur, setiap hari bisa memproduksi 50 kg hingga 70 kg ikan wader dan ikan petek menjadi ikan crispy. Ikan wader dan petek tersebut diambil dari hasil tangkapan nelayan di Waduk Kedung Ombo. Saat ini ada tiga nelayan yang menjadi mitranya.

Ikan segar dari nelayan langsung bersihkan dan digoreng hingga kering. Usai digoreng, ikan tersebut kemudian dibaluri tepung dan bumbu khusus. Selanjutnya digoreng lagi sampai kering.

“Ini tanpa pengawet ya, ikan crispy produksi saya bisa bertahan hingga tiga bulan,” ujar dia.

Dalam produksi ini, Pur dibantu dua orang karyawan. Sedangkan tenaga pengemas dibantu anaknya.

Menurun karena Pandemi

Saat permintaan meningkat, biasanya proses produksi ikan crispy dibantu warga lainnya. Permintaan meningkat biasanya pada waktu Lebaran, tahun baru, Iduladha, dan hari-hari besar lainnya.

Omzet dari penjualan ikan crispy berupa wader dan petek khas Waduk Kedung Ombo ini, kata Purwanti, rata-rata per bulan bisa mencapai Rp20 juta.

Pada masa pandemi ini, dia mengaku mengalami penurunan produksi dan omzet. Selama masa pandemi, produksi ikan crispy tidak dilakukan setiap hari. Sedangkan untuk sekali produksi hanya 30 kg ikan wader dan petek.

Saat awal pandemi, dia sebenarnya sempat mempertahankan jumlah produksi seperti sebelumnya. Namun, ternyata kondisinya sepi dan pembeli turun drastis. Sehingga banyak ikan crispy dibuang karena berjamur dan rusak.

Mengenai pemasaran produk, Pur mengaku selama ini hanya mengandalkan pemasaran offline dengan menitipkan ke warung makan hingga restoran di sekitar kawasan Kedung Ombo. Selain itu, dirinya juga mempunyai delapan reseller yang ikut menjual produknya.

“Saya belum menjual secara online. Kalau reseller saya sudah menjualnya secara online. Karena memang tidak ada waktu dan minim pengetahuan di pemasaran online. Saya lebih fokus diproduksi,” ujarnya.

Purwanti merupakan satu dari 50 peserta UMKM Virtual Expo 2021 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo dan Solopos Media Group.

Dia mengaku senang bisa menjadi salah satu peserta dalam UMKM Virtual Expo 2021 itu. Menurutnya, banyak pengalaman dan pengetahuan tentang marketing online yang didapatkan. Selain diajari mengenai pemasaran online, dia juga mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya packaging produk dalam penjualan online. Ilmu itu akan digunakannya untuk mengembangkan dagangan wader dan petek crispy khas Waduk Kedung Ombo.

“Harapannya, penjualan ikan crispy ini bisa berkembang lagi. Pasar online kan sangat luas. Nanti akan lebih memaksimalkan pemasaran secara offline dan online,” jelasnya.

Keren Banget! Tas Kualitas Impor Ini Bikinan Sukoharjo

Umkmexpo.com, SEMARANG – Menjadi salah satu peserta UMKM Virtual Expo 2021 menjadi pengalaman berharga bagi Agustina Sulistyaningrum. Dari kegiatan yang digelar Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo dengan Solopos itu, ibu dua anak ini mendapat tambahan ilmu untuk memasarkan produk-produknya secara daring.

Selama ini pemilik kerajinan kulit dengan brand Bingah Leather Craft itu memang sangat mengantungkan pemasaran produknya secara online, seperti di Instagram melalui akun. Maklum, sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Agustina belum memiliki galeri atau gerai untuk memasarkan produk secara offline atau luring.

“Selama ini untuk memasarkan produk ya saya cuma mengandalkan Instagram dan media sosial lainnya. Tapi, kalau untuk pemasaran offline, biasanya saya titipkan ke toko-toko dengan sistem konsinyasi,” tutur Tina, sapaan akrab Agustina kepada Solopos.com, Kamis (23/7/2021).

Tina mengaku tak pernah terpikir bakal menggeluti bisnis produk kerajinan kulit. Terlebih lagi, ia tidak memiliki keahlian membuat tas atau kerajinan kulit yang lain.

Kerja Kantoran

Sebelum menggeluti bisnis kerajinan kulit, Tina hanyalah seorang karyawan swasta di perusahaan multimedia. Ia bahkan sempat berpindah-pindah kantor karena tuntutan kebutuhan.

Tahun 2021 menjadi awal karier di dunia bisnis. Awalnya, ia menjual produk-produk tas dari bahan kain batik. “Awalnya saya jualan produk batik. Dari situ saya kenal dengan beberapa pengrajin tas. Tapi, saat itu masih sebatas bisnis sampingan. Eh, ternyata hasilnya lebih besar daripada gaji sebagai karyawan,” tutur Tina.

Mendapat omzet lebih besar dari pendapatan sebagai karyawan tak lantas membuat Tina meninggalkan pekerjaan kantoran. Ia bahkan sempat vakum berbisnis, karena sibuk dengan urusan keluarga.

Baru di akhir 2018, Tina kembali menekuni usaha pembuatan tas. Berbekal hubungan yang baik dengan para pengrajin, ia pun mulai memasarkan produk-produk tas berbahan kulit. Usaha itu pun lambat laun menuai hasil yang apik. Lina pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan kantor, dan fokus dalam bisnis pemasaran kerajinan kulit.

“Teman saya yang perajin itu yang membujuk saya untuk resign dari kantor. Selain itu, anak saya juga sudah mulai besar dan butuh perhatian lebih. Akhirnya, saya putuskan untuk menggeluti usaha tas kulit,” ujarnya.

Berani Bersaing

Selain tas, Tina juga memasarkan produk lain berbahan kulit seperti dompet, tempat notebook, name tag, hingga gantungan kunci.

Produk yang dipasarkan pun harganya cukup murah. Untuk satu tas buatan Bingah Leather Craft dibanderol Rp350.000-Rp800.000. Jauh lebih murah dibanding tas-tas buatan luar negeri, seperti Hermes atau Fossil yang harganya mencapai puluhan juta rupiah.

Meski murah, Tina mengaku kualitas produknya tidak kalah bersaing. Bahkan, banyak pelanggan yang memuji produknya. “Saya berani compare [membandingkan] deh dengan produk lain. Kualitas jahitan kami kuat dan desainnya juga bagus. Kebanyakan pelanggan juga suka. Bahkan pesanan rata-rata yang custom atau made by order,” ujar Tina.

Perempuan yang tinggal di Karangasem, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, itu mengaku sebelum pandemi dapat meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan. Namun di masa pandemi ini, pendapatannya menurun drastis.

“Dulu [sebelum pandemi] bisa laku 100 tas per bulan. Sekarang, laku 10 saja sudah bagus. Tapi enggak apa-apa. Yang penting tetap berjalan,” tutur alumnus STP Ampta Yogyakarta itu.

Legitnya Cokelat Chocotin, Oleh-oleh Khas Tawangmangu

Umkmexpo.com, SUKOHARJO– Pasangan suami istri asal Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Bagas Handoko, 34 dan Tri Hardina, 32, sukses mengelola bisnis cokelat yang kini digandrungi menjadi buah tangan bagi para wisatawan saat berkunjung di kawasan wisata Tawangmangu.

Produk dengan brand nama Chocotin Cokelat Tawangmangu ini merupakan satu dari 50 peserta UMKM dan lolos mendapat pendampingan Virtual Expo 2021. Event yang merupakan kerja bareng Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo dan Solopos Media Group tersebut menyasar UMKM Soloraya agar go digital.

Usaha yang dirintis Desember 2019 lalu, sempat mengalami keterpurukan karena terdampak pandemi Covid-19. “Januari 2020 kita mulai meluncurkan produk Chocotin ke pasaran. Baru berjalan tiga bulan ada pandemi Corona sampai akhirnya sempat berhenti produksi selama tiga bulan lamanya,” kata Tri Hardina ketika berbincang dengan Solopos.com pada Jumat (23/7/2021).

Padahal tiga bulan awal berjalan, usahanya sukses menarik pembeli yang mayoritas merupakan wisatawan dengan menjadikan buah tangan. Di awal tiga bulan pertama produk dipasarkan saja, ia mampu meraup omzet hingga Rp2 juta lebih per bulannya.

Namun sayangnya pandemi Covid-19 melanda Indonesia hingga pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Maret 2020 lalu. Usaha yang baru dirintis inipun terdampak hingga berhenti berproduksi. Dia dan suami baru mulai memberanikan diri kembali memproduksi Chocotin sekitar Agustus 2020.

“Dari semula produk kami titipkan ke tempat-tempat oleh-oleh sampai diperluas ke tempat makan dan restoran di kawasan Tawangmangu. Dan Alhamdulillah ada respons baik dari pasar,” kata dia.

Chocotin Cokelat Memanfaatkan Hasil Bumi Tawangmangu

Usaha Chocotin Cokelat Tawangmangu ini lambat laun mulai bangkit. Hingga kini omzet penjualannya sudah mencapai Rp5 juta per bulannya. Produk Chocotin yang dibuat juga mulai dikembangka.

Dari semula hanya memproduksi Chocotin rasa buah tin, kini ada empat varian rasa lain. Yakni Chocotin Ubi Ungu, Kopi Lawu, Kismis dan Pure Dark. Hanya saja untuk Chocotin buah Tin sementara ini berhenti diproduksi karena kesulitan bahan baku.

“Sementara ini ada empat varian yang kita produksi, ubi ungu, kismis, kopi lawu dan pure dark,” katanya.

Empat varian produk Chocotin Cokelat Tawangmangu ini banyak dilirik sebagai buah tangan bagi para wisatawan di Tawangmangu. Rasa cokelat yang khas perpaduan baik ubi ungu, kopi lawu, kismis ini menggugah para pecinta cokelat dengan rasa berbeda. Harga yang dibanderol pun cukup ramah dikantong. Untuk satu bungkus satu cokelat kecil dijual senilai Rp15.000 dan besar Rp20.000.

“Cokelat yang kita tahu selama ini kan hanya itu-itu saja, tapi ini cokelat dengan rasa ubi ungi atau kopi lawu belum pernah ada,” katanya.

Dengan memanfaatkan hasil bumi di Tawangmangu seperti ubi ungu dan kopi lawu ini, pasangan Bagas Handoko dan Tri Hardino sukses menggaet pasar wisatawan di sana. Kini pasutri tersebut tengah fokus mengembangkan produk Chocotin ke luar daerah melalui pasar online.

“Mudah-mudahan bisa diterima masyarakat luas,” harapnya.

Modal Rp500.000, UMKM Makanan Tradisional Beku Karanganyar Ini Kini Punya Puluhan Agen

Umkmexpo.com, KARANGANYAR — Pemilik Lummer Frozen Food di Tawangmangu, Karanganyar, Rohman, 30, sukses mengelola bisnis makanan tradisional beku hingga memiliki puluhan agen.

Rohman merupakan satu dari 50 peserta UMKM Virtual Expo 2021. Event yang merupakan kerja bareng Bank Indonesia (BI) Perwakilan Solo dan Solopos Media Group tersebut menyasar UMKM Soloraya agar go digital.

Usaha Rohman bernama Lummer Frozen Food yang merupakan salah satu bisnis yang lolos mendapat pendampingan dalam UMKM Virtual Expo 2021  tersebut mulai dirintis 2018.

Meski demikian, Rohman memulai terjun sebagai pelaku UMKM sejak 2006. Saat itu produk yang dipasarkan berupa banana topping.

“Dulu pemasarannya dari toko ke toko. Kemudian mulai 2018, saya banting setir ke Lummer Froozen Food. Awalnya hanya dua produk, singkong dan molen. Lambat laun, satu hingga dua bulan saya mengembangkan empat produk, ada tambahan getuk dan timus,” terang dia kepada Solopos.com, Minggu (18/7/2021).

Satu tahun setelah peserta UMKM Virtual Expo 2021 ini merintis usaha itu, respons pasar atau konsumen bagus. Hingga sekarang sudah ada 25 produk yang dikeluarkan. Semua produk tersebut merupakan makanan tradisional, mulai dari timus, tela-tela, gemblong, dan lain-lain.

Frozen Food Dijual Mulai Rp15.000

Rohman menjual dagangannya senilai Rp15.000 hingga Rp18.000 per kemasan. Adapun pemasaran dengan cara mencari agen di toko. Selain itu, ia juga melobi kepada agen perorangan.

“Dengan begitu kami punya sistem keagenan. Saat menjualkan produk kami, ada sistem atau syarat yang harus dipenuhi. Ada ketentuan yang berlaku,” paparnya.

Kini, salah satu peserta UMKM Virtual Expo 2021 ini sudah memiliki 50 agen toko dan sejumlah perorangan. Puluhan agen itu tersebar di Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, Klaten, Jogja, Semarang, Pacitan, dan Magetan.

Setiap hari, Rohman bersama tujuh karyawannya membuat produk Lummer Frozen Food. Sebelum pandemi Covid-19, dalam satu bulan ia bisa menjual 5.000 kemasan. Selama pandemi, rata-rata hanya 3.000 kemasan yang bisa dikeluarkan setiap bulan.

UMKM di Karanganyar ini tidak menampik jika orang yang berwirausaha di bidang serupa di Soloraya sudah cukup banyak. Namun, produk miliknya mempunyai perbedaan dengan produk lain yang membuat pelanggannya setia.

Produk dikemas dengan sistem vakum sehingga bisa bertahan lama tanpa pengawet. Kualitas produk jadi unggulannya. “Ide awal saya melihat kebutuhan pasar. Tidak ada inspirasi dari orang lain. Kami fokuskan untuk wirausaha dan alhamdulillah respons bagus. Dulu memang dari nol karena modal habis untuk usaha banana topping. Awalnya modal saya hanya Rp500.000,” kata Rohman.

Pengembangan Usaha

Dia menilai program UMKM Virtual Expo 2021 sangat berpengaruh dalam pengembangan usahanya. “Awalnya saya tahu UMKM Virtual Expo dari browsing saja. Setelah tahu langsung daftar secara online. Akhirnya dapat balasan dan ikut,” kata dia.

Menurut Rohman, UMKM Virtual Expo 2021 memberi pengaruh yang luar biasa terhadap pengembangan usahanya. Banyak ilmu yang bisa didapatkan, mulai dari masuk dalam online shop, tata kelola dan manajemen, serta cara promosi produk yang digelar secara bertahap, April 2021-Juni 2021.

“Ilmu yang didapatkan untuk perbaikan saya sendiri. Banyak relasi baru yang juga saya dapatkan dari para peserta lain. Sangat berpengaruh karena selama ini pemasarannya melalui agen toko dan perorangan,” ujar dia.

Mencicipi Teh Gambyong Buatan Warga Karanganyar, Ada Aroma Kopinya

Umkmexpo.com, SOLO — Meski baru dirintis sekitar tujuh tahun, teh merek Gambyong buatan pengusaha asal Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, ini tak bisa dianggap enteng.

Dengan cita rasanya yang unik, pemasaran teh Gambyong buatan pengusaha bernama Eko Wuryanto, 41, ini sudah menembus berbagai pulau di Indonesia. Sejak pertengahan 2014, Eko merintis usaha teh kering kemasan dengan brand (merek) Teh Gambyong.

Produk teh dengan berbagai cita rasa milik Eko sudah dipasarkan di berbagai wilayah Jawa dan Bali. Tujuh tahun berjalan, usaha ini telah melalui pasang surut. Tapi tekad Eko telah bulat untuk mengenalkan teh khas Kemuning itu ke Tanah Air.

“Untuk penjualan dari awal hingga sekarang mengalami peningkatan yang cukup baik. Sebab teh Gambyong berbeda dengan teh biasa di pasaran. Ada keunikan-keunikan sendiri dari aroma dan cita rasa,” ujarnya kepada Solopos.com, Selasa (20/7/2021).

Keunikan Teh Gambyong Kemuning, Karanganyar, misalnya adanya aroma kopi pada setiap seduhannya. Padahal Eko tidak menambahkan sedikit pun kopi ke teh yang ia buat. Menurutnya, aroma kopi bisa muncul karena pengolahan atau pembuatannya yang khas.

Namun Eko tak memerinci proses pengolahan teh yang bisa memunculkan aroma kopi. “Orang-orang biasa menyebut teh kopi. Walau kami tidak menambahkan sedikit pun kopi, tapi karena proses pengolahan yang menghasilkan aroma itu,” katanya.

Pilihan Cita Rasa

Keunggulan lain Teh Gambyong Kemuning, Karanganyar, menurut Eko, yakni adanya berbagai pilihan cita rasa, seperti teh melati, teh jahe, teh serai, teh hijau, teh hitam, serta teh mint. Ada juga produk kualitas premium Gambyong yaitu teh putih dan teh oolong.

“Kata konsumen, teh oolong kami cita rasanya lebih keluar, lebih mantap dibandingkan teh sejenis yang beredar di pasaran,” urainya.

Eko bersyukur bisa mendapatkan daun teh terbaik dari wilayah perkebunan Kemuning di area lereng Gunung Lawu. Untuk pemasaran Teh Gambyong, Kemuning, Karanganyar, menurut Eko, memang lebih banyak Jawa-Bali. Tapi beberapa waktu terakhir produknya mulai masuk ke Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Ia dibantu banyak reseller dalam memasarkan produk andalannya itu. “Sebenarnya hampir di semua wilayah Jawa dan Bali ada. Tapi memang hanya beberapa tempat. Kami belum jual ke khalayak ramai, tapi produk kami sudah diterima pencinta teh dari Jawa, Bali, juga dari Sumatra, Kalimantan, bahkan Papua,” tuturnya.

Terinspirasi Tari Gambyong

Menurut Eko, Teh Gambyong juga sudah bisa dibeli di marketplace dan toko online Tanah Air, seperti Shopee dan Tokopedia. Teh karya Eko diminati masyarakat dari berbagai kalangan dan latar belakang.

Sebab teh Gambyong memang tersedia dalam berbagai pilihan aroma dan cita rasa. Ihwal nama “Gambyong”, Eko mengaku terinspirasi tari tradisional itu. Tari Gambyong biasa dipentaskan dalam setiap acara sebagai pembuka atau penyambutan tamu.

Eko berkeinginan Teh Gambyong, Kemuning, Karanganyar, juga bisa seperti Tari Gambyong. “Secara filosofi saya terinspirasi dari Tari Gambyong. Saya ingin Teh Gambyong bisa berkembang dan disukai para pencinta teh, sehingga menjadi minuman penyambutan,” jelasnya.

Untuk menambah ilmu di bidang pemasaran, belum lama ini Eko mengikuti event UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan Solopos Media Group (SMG). Ia ingin belajar mulai dari proses usaha hingga bagaimana untuk memasarkan produk agar lebih dikenal khalayak ramai. “Banyak hal yang harus dipelajari, banyak potensi yang bisa didapatkan,” ungkapnya.

Keren! Pengusaha Tanaman Hias Sukoharjo Ini Tembus Pasas Luar Jawa

Umkmexpo.com, SUKOHARJO – Acasha Nursery nama usaha budidaya tanaman hias dan buah yang digeluti keluarga Amorizza Wury Hartanti dan adiknya Tiara Karunia Kristy kini telah berkembang pesat. Bahkan pembelinya pun ada yang berada di luar Pulau Jawa.

Namun, untuk bisa mendapatkan itu semua tak semudah membalikan telapak tangan. Ada kegigihan dibalik usaha Amorizza dan saudaranya mengembangkan usaha yang dirintis bapaknya tersebut. Apalagi usaha itu digeluti di rumah bukan di kios tersendiri.

Cerita usaha keluarga, Acasha Nursery tersebut pun mengalir dari Tiara yang kini masih duduk di STIKES Nasional. Usaha tersebut awalnya dirintis, Yohanes Mulyadi yang tak lain bapak dari Tiara pada 1980 an. Saat mengawali usaha bapak Tiara yang sudah meninggal, hanya fokus pada tanaman hias bonsai.

Sebagai guru SD, Yohanes Mulyadi menjadikan usahanya sebagai tambahan sekaligus hobi yang digeluti di rumahnya . Kemudian kian berkembang ketika Yohanes memasuki masa pensiun pada 2010. Tak hanya tanaman hias bonsai yang ada di Acasha Nursery, namun juga tanaman buah termasuk bibit dan media tanam.

Usaha tersebut mengalami pasang surut, karena tergantung tanaman apa yang booming di masyarakat. Namun Yohanes Mulyadi tetap dengan tekun menggeluti usahanya itu. Hingga akhirnya pada 2018 dia mengalami stroke dan akhirnya meninggal pada 2020.

“Terus terang ini duka bagi kami, karena dari usaha bapak kami bisa sekolah dan memenuhi kebutuhan dibantu kakak-kakak kami. Kondisi ini pun membuat mbak Amorizza, saya, dan ibu bertekad meneruskan Acasha Nursery,” jelas Tiara.

Acasha Nursery Merambah Marketplace

Beruntung selama ini Tiara dan saudaranya sering diajak berkebun bareng dengan bapak. Sehingga ada pengetahuan yang didapat soal tanaman hias dan buah. Kendati tak sebanyak yang dimiliki orang tuanya.

Namun, perjuangan mereka kemudian mendatangkan hasil, berkat ketekunan dan keinginan kuat untuk melanjutkan usaha. Tak hanya itu, berkas usaha tanaman hias dan buah, Amorizza dan Tiara pun bisa kuliah.

“Saya sudah lulus dan baru diwisuda Sabtu 17 Juli 2021. Kalau adik, Tiara masih kuliah di STIKES Nasional,” tutur Amorizza.

Kini Acasha Nursery sudah merambah dunia online, tidak hanya di Facebook dan Instagram, namun sudah jualan di marketplace.

“Sangat bersyukur, karena pembeli tak hanya dari Soloraya, namun ada yang dari Sumatera dan Bali. Ini juga memberikan kami pelajaran bagaimana mengurus karantina untuk pengiriman tanaman,” ujar Tiara kepada Solopos.com.

Keinginan untuk terus memajukan usaha menjadikan Amorizza peserta UMKM Virtual Expo 2021 yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo dengan Solopos Media Group. Pelatihan ini diikuti puluhan peserta dan digelar secara bertahap, April – Juni 2021.

“Dapat ilmu baru tentang berjualan online yang sangat membantu usaha Acasha Nursery. Apalagi saat ini PPKM sehingga meminimalkan tatap muka antara penjual dan pembeli. Termasuk pengetahuan pembayaran non tunai,” terang Amorizza didampingi Tiara.

Karena di UMKM Virtual Expo 2021 banyak pengetahuan yang didapatkan dan berhubungan langsung dengan pelaku usaha yang tengah menjalani bisnis online. Termasuk juga, lanjutnya, ada pembelajaran memotret objek yang akan dijual online.

“Ternyata ada tekniknya agar foto yang dihasilkan lebih menarik. Sangat membantu dalam pemasaran usaha tanaman hias dan buah, Acasha Nursery,” ujar dia.

Kini usaha yang digeluti di rumah yang terletak di Dusun Pusposari RT 003, RW 006, Desa Wironanggan, Kecamatan Gatak, Sukoharjo semakin berkembang. “Bisa berkunjung langsung, atau menengok akun Instagram: acashanursery2,” pungkasnya.

Cerita Kegigihan Heny Lahirkan Produk Viciokall yang Ramah Lingkungan

Umkmexpo.com, KLATEN — Pelaksanaan UMKM Virtual Expo 2021 masih membekas di benak salah seorang peserta, yakni Heny Dwi Astuti, 40, Owner Viciokall Jebres, Solo. Pelatihan tersebut dinilai sangat bermanfaat guna memasarkan produk di era serba digital.

Sebagai informasi, UMKM Virtual Expo 2021 digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Solo bekerja sama dengan Solopos Media Group. Pelatihan yang diikuti puluhan peserta itu digelar secara bertahap, April 2021-Juni 2021.

“Saya itu, saya mendaftarkan diri sebagai peserta di pelatihan UMKM Virtual Expo 2021 enggak sengaja. Awalnya mendapat informasi dari teman [perajin sabun]. Waktu itu, antara yakin dan enggak yakin. Tapi, tetap saya mencoba. Ternyata, dapat balasan. Akhirnya saya mengikuti acara via zoom yang pertama. Ada ilmu baru yang saya peroleh dari sana,” kata Heny Dwi Astuti, kepada Solopos.com, Kamis (15/7/2021).

Selaku pelaku UMKM di tengah kemajuan teknologi saat ini, lanjut Heny, dirinya sangat membutuhkan ilmu tentang strategi pemasaran produk. Selain itu, dirinya juga harus dalam kondisi siap menghadapi tantangan zaman, yakni harus melawan gagap teknologi (gaptek) dengan mempelajari ilmu digital.

“Terus terang, saya sendiri baru di bidang digital. Biasanya, penjualan kan secara langsung [konvensional/offline]. Dengan mengikuti acara kemarin, pemasaran ke depan juga mulai mengarah ke digital,” katanya.

viciokall

Produk Viciokall (Istimewa)

Heny Dwi Astuti merupakan salah seorang pelaku UMKM yang memiliki produk berupa minyak VCO atau virgin coconut oil. Brand yang dimiliki, yakni Viciokall. Harga produknya berkisar Rp35.000-Rp100.000 per unit. Viciokall berbahan alami dan dinilai sangat menyehatkan.

Tak Memahami Ramah Lingkungan

Selain itu juga memproduksi produk sabun VCO rempah-rempah. Harga sabun VCO rempahnya senilai Rp15.000 per unit untuk ukuran 50 gram. Sabun rempah bikinan Heny Dwi Astuti ini dinilai ramah lingkungan karena tak memakai bahan kimia.

Terbaru, wanita asal Jebres, Solo, ini merilis produk terbarunya, yakni cookies kepala coklat kacang alias copacang, saat momentum Lebaran 2021. Kukis tersebut sejenis kue sagon. Harganya senilai Rp15.000 per 90 gram.

“Saya mulai merintis usaha saya di tahun 2019. Waktu itu pas hamil. Memanfaatkan kelapa [bahan membuat Viciokall],” katanya.

Menyadari masih menjadi pemain baru, Heny Dwi Astuti bertekad terus belajar mengembangkan diri di era kecanggihan teknologi. Hal tersebut termasuk mempelajari dunia pemasaran di era digital.

“Itu menjadi ilmu yang baru. Waktu itu, ada pendampingan langsung dari Shopee, yaitu Mas Dias. Ke depan, perlu ditindaklanjuti,” katanya.

Heny Dwi Astuti mengakui tingkat penjualan produknya belum optimal di tengah pandemi Covid-19. Meski seperti itu, dirinya berusaha bertahan dengan menggeluti sekaligus mengembangkan usahanya.

“Pandemi seperti ini, pasar-pasar tutup. Otomatis berdampak ke penjualan. Makanya, ini dimulai dengan beralih ke digital,” katanya.